Danau Maninjau

Danau Maninjau Selayang Pandang

Danau Maninjau

Danau Maninjau berlokasi di kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Danau Maninjau merupakan danau vulkanik terbentuk karena letusan gunung Sitinjau. Jika dari Bandara International Minangkabau, kita dapat mencapai Danau Maninjau dengan melewati Padang Pariaman, dimana disini kita akan menyisiri Pantai Pariaman yang elok atau melewati perbukitan hijau dan hutan lindung di Lembah Anai  yang menyejukkan mata.

Jarak tempuh dari Bandara International Minangkabau lebih kurang 2 Jam menuju Desa matur. Di sepanjang perjalanan kita bisa menyaksikan keindahan Danau Maninjau dari ketinggian. Dari Matur menuju Danau maninjau kita akan mencoba uji nyali dengan melewati liukan kelok 44. Jika kita berpergian ke Danai ini dengan group yang ramai, karena akses jalan yang masih belum terlalu luas, hanya memperbolehkan kita untuk melewati jalur ini dengan menggunakan Bus 30 Seat saja.

Setelah mencapai danau Maninjau, kita akan menemukan kediaman satrawan dari ranah minang yang sudah terkenal sampai ke negara tetangga yaitu Buya Hamka. Terkenal dengan Bukunya yang berjudul tenggelamnya Kapal Van Der Wick, Rubuhnya Surau Kami dan masih banyak lagi karya-karya yang telah dihasilkan oleh beliau.

Ada beberapa penginapan yang terdapat diarea Danau Maninjau, diantaranya Hotel Pasir Panjang, Hotel Maninjau Indah, Nuansa Maninjau Resort dan beberapa home stay lainnya. Dahulu Danau maninjau menjadi salah satu tempat favorit bagi wisatawan mancanegara yang ingin menikmati waktu liburnya dengan hanya berenang atau membaca buku. Terbukti dengan banyaknya Homestay-homestay yang terletak dipinggir Danau.

Dipinggiran Danau, banyak sekali kita temui kerambah-kerambah yang dikelola oleh penduduk setempat. Danau Maninjau juga terkenal dengan penghasil Ikan Rinuak yaitu spesies bayi ikan sangat sedap jika dijadikan Palai Rinuak (pepes Rinuak). Selain itu Danau ini juga terkenal dengan hasil Pensinya. Sejenis kerang yang hidup di danau.

Danau maninjau juga terlekenal dengan legenda Bujang Sembilan.

Di sebuah perkampungan di kaki Gunung Tinjau, Sumatra Barat, hiduplah 10 orang bersaudara. Mereka terdiri dari sembilan laki-laki dan satu anak perempuan. Ayah dan ibu mereka telah meninggal dunia. Anak tertua bernama Kukuban. Sementara itu, si bungsu yang merupakan satu-satunya perempuan, bernama Siti Rasani atau Sani. Karena jumlah laki-laki bersaudara itu sembilan orang, penduduk sekitar sering menyebut mereka dengan Bujang Sembilan.

Mereka diasuh oleh Pamannya, yaitu Datuk Limbatang yang biasa mereka panggil Engku. Datuk Limbatang mempunyai seorang anak lelaki bernama Giran.

Setelah menginjak dewasa, Giran dan Sani saling jatuh cinta. Pada mulanya, mereka menyembunyikan hubungan tersebut. Akhirnya mereka mengungkapkan hubungan ini kepada keluarga masing masing. Kedua keluarga itu setuju dengan hubungan Sani dan Gani.

Saat panen usai, warga di perkampungan itu melangsungkan perayaan adat berupa silat. Semua bersemangat mengikuti upacara ini, termasuk Kukuban dan Giran.Kukuban dengan keahlian silatnya berhasil mengalahkan lawan-lawannya. Hal yang sama terjadi pada Giran. Akhirnya, keduanya bertemu pada pertandingan penentuan.

Ketika pertarungan berlangsung, keduanya mengeluarkah ke ahlian masing-masing. Kukuban sangat tajam melancarkan serangan-serangan kepada Giran. Suatu saat, ia melancarkan tendangan ke arah Giran, tetapi tendangan tersebut ditangkis dengan keras oleh Giran. Semua penonton tercengang ketika tiba-tiba Kukuban berteriak kesakitan. Ternyata, kaki Kukuban patah. la dinyatakan kalah dalam pertarungan. Semenjak kejadian itu, Kukuban menyimpan dendam pada Giran.

Suatu hari, Datuk Limbatang dan keluarganya datang ke rumah Bujang Sembilan untuk membicarakan kelanjutan hubungan Sani dan Giran. Di luar dugaan, Kukuban menentang hubungan adiknya dengan Giran. Terjadilah perselisihan antara Kukuban dan Datuk Limbatang.“Sampai kapan pun aku tidak akan menyetujui pernikahan Sani dengan anak Engku. Giran sudah mempermalukanku di depan penduduk dan ia juga mematahkan kakiku!” ujar Kukuban. Usaha Datuk Limbatang membujuk Kukuban agar memberikan persetujuannya tidak membuahkan hasil.

“Anakku, Kukuban, mengapa engkau membenci Giran? Semua menyaksikan bahwa kaulah yang menyerang Giran, ketika Giran terpojok ia menangkis tendanganmu sehingga kakimu patah. Giran tidak bersalah. Engku bukan membela anak Engku, tetapi memang begitulah kejadian yang sebenarnya.”

Namun, semua sia-sia. Kukuban tetap menolak memberikan restunya. Sani dan Giran tidak bisa menikah. Betapa sedihnya hati Sani dan Giran. Giran Ialu mengajak Sani untuk bertemu di suatu tempat membicarakan masalah ini. Keesokan harinya, mereka bertemu di sebuah ladang di pinggir sungai. “Apa yang harus kita perbuat, Dik. Abangmu sangat tidak merestui hubungan kita,” keluh Giran. “Entahlah, Bang. Semua keputusan ada di tangan Bang Kukuban. Dia benci, sekali kepada Abang;” isak Sani. Dengan perasaan kalut, Sani beranjak dari tempat duduknya. Tiba-tiba, sarung yang dikenakannya tersangkut di sebuah ranting berduri dan melukai kakinya hingga berdarah. Sani merintih kesakitan “Adik, kamu terluka. Abang akan bantu mengobatinya,” ujar Giran. Lalu, Giran mengambil daun-daun obat di sekitarnya dan mengoleskan ramuan yang dibuatnya ke bagian luka kekasihnya.

Mereka berdua tidak menyadari kalau mereka sedang diawasi. Ternyata, Kukuban telah memanggil warga untuk mengawasi Sani clan Giran. Melihat Giran yang sedang mengobati luka di kaki Sani, warga mempunyai prasangka yang buruk terhadap keduanya. Sani dan Giran digiring warga untuk diadili, karena dianggap telah melakukan perbuatan yang memalukan dan melanggar etika adat.

Sidang adat memutuskan bahwa mereka bersalah dan sebagai hukumannya keduanya harus dibuang ke Kawah Gunung Tinjau agar tidak membawa malapetaka bagi penduduk.

Sani dan Giran digiring menuju puncak Gunung Tinjau. Mata mareka ditutup dengan kain hitam. Giran dan Sani masih tetap berusaha meyakinkan penduduk bahwa mereka tidak bersalah.

Di puncak Gunung Tinjau, Giran menengadahkan tangannya dan berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. “Ya Tuhan. Jika kami tidak bersalah, Ietuskanlah gunung ini sehingga menjadi pelajaran bagi mereka semua,” doa Giran sambil berurai air mata. Lalu, Sani dan Giran meloncat ke dalam kawah yang sangat panas.

Bujang Sembilan dan para penduduk merasa cemas dengan doa yang dipanjatkan Giran. Jika ternyata mereka salah menuduh, mereka akan hancur. Tidak lama kemudian, terjadilah letusan dahsyat yang menyebabkan gempa hebat yang menghancurkan Gunung Tinjau dan pemukiman penduduk yang berada di sekitarnya. Tidak ada satu pun yang selamat. Letusan tersebut menyebabkan terjadinya sebuah kawah yang semakin lama semakin besar, sehingga terbentuklah danau Maninjau

 

 

 

Share This: