Terdapat sebuah lubang bekas tambang batu bara di Kota Sawahlunto yang disebut dengan Lubang Mbah Suro atau Lubang Soegar karena berada di daerah Lembah Soegar. Lubang tersebut menyimpan sejarah tentang orang rantai. Salah satunya Mbah Suro yang menjadi mandor para orang rantai di Sawahlunto. Orang rantai merupakan sebutan untuk para pekerja tambang di Sawahlunto. Mereka dikirim dari berbagai daerah di Hindia Belanda termasuk Batavia. 

 

Mereka adalah tahanan kriminal atau politik dari wilayah Jawa dan Sumatera. Mereka dibawa Ke Sawahlunto dengan kondisi kaki, tangan dan leher masih dirantai. Mereka dipekerjakan hingga tahun 1898. 

 

Mbah Suro atau disebut juga dengan Lemhak Soerono dikenal memiliki ilmu kebatinan yang tinggi dan menjadi panutan serta disegani oleh warga sekitar. Mbah Suro memiliki 5 anak dengan 13 cucu. Istrinya merupakan seorang dukun beranak . Mbah Suro meninggal sebelum tahun 1930 dan dimakamkan di pemakaman orang rantai yakni di Tanjung Sari, Kota Sawahlunto.

 

Lubang ini memiliki lebar dua meter dengan ketinggian dua meter dan kedalaman mencapai 15 meter di permukaan tanah. Serta memiliki panjang 1,5 kilometer di bawah Kota Sawahlunto. Sejak tahun 1982, Kota Sawahlunto mulai memproduksi batu bara dan seiring berjalannya waktu, kota ini pun menjadi kawasan pemukiman pekerja tambang dan terus berkembang menjadi sebuah kota kecil. 

 

Lubang Mbah Suro berlokasi di Jl. Abdurrahmanhakim, Tanah Lapang, Kecamatan Lembah Segar, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat  

 

Visit Goa Mbah Soero

Don't miss this amazing opportunity to enjoy our Hotel services!