PACU JAWI

PACU JAWI

Pacu Jawi adalah tradisi balap sapi khas Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, yang telah berlangsung selama berabad-abad. Kegiatan ini biasanya diselenggarakan setelah musim panen sebagai bentuk syukur masyarakat atas hasil pertanian mereka. Dalam acara ini, sepasang sapi ditunggangi oleh seorang joki yang berdiri di atas bajak kayu, melintasi sawah berlumpur sejauh sekitar 60 hingga 250 meter. Menariknya, tidak ada pemenang resmi dalam perlombaan ini; sapi dinilai berdasarkan kecepatan dan kemampuannya berlari lurus, yang kemudian mempengaruhi nilai jualnya di pasar ternak. ​

Tradisi Pacu Jawi tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga memiliki nilai ekonomi dan budaya yang tinggi. Sapi-sapi yang menunjukkan performa baik dalam pacuan sering kali mengalami peningkatan harga jual yang signifikan. Selain itu, acara ini menjadi sarana promosi budaya Minangkabau, menarik minat wisatawan lokal maupun mancanegara untuk menyaksikan keunikan dan keindahan tradisi ini secara langsung.

Pacu Jawi biasanya diselenggarakan setiap hari Sabtu di empat kecamatan di Tanah Datar: Pariangan, Lima Kaum, Rambatan, dan Sungai Tarab. Acara ini tidak hanya menampilkan balap sapi, tetapi juga diiringi dengan berbagai pertunjukan seni tradisional seperti tari piring dan musik talempong, serta pasar kuliner yang menyajikan makanan khas daerah. Hal ini menjadikan Pacu Jawi sebagai festival budaya yang meriah dan penuh warna.

Keunikan dan nilai budaya Pacu Jawi telah diakui secara nasional, dengan ditetapkannya tradisi ini sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2020. Pengakuan ini memperkuat pentingnya melestarikan Pacu Jawi sebagai bagian dari identitas budaya Indonesia yang kaya dan beragam. ​

PACU ITIAK

PACU ITIAK

Minangkabau dalam hal budaya selalu menarik. Tak ada habisnya. Warga Minang di Provinsi Sumatra Barat sangat kukuh mempertahankan tradisi nenek moyang. Mulai dari masakan, kesenian, hukum adat, hingga kebiasaan unik pun terus mereka jaga. Pacu itiak misalkan.

Olahraga tradisional asli Kabupaten Limapuluh Kota ini konon sudah ada sejak 1028. Kisah awalnya terjadi di Kanagarian Aur Kuning, Sicincin, dan Padang Panjang. Kebiasaan petani dalam mengembala itik dengan menghalaunya hingga terbang menjadi ide awal olahraga ini.

Dari sanalah muncul ide untuk mengadakan pacu itik. Mereka mulai melatih para itik untuk dapat terbang tinggi, kemudian diikutsertakan dalam ajang lomba pacu itiak. Uniiknya, lomba ini diselenggarakan guna menghilangkan kejemuan dan kepenatan para petani.

Kebiasaan ini terus terjadi turun temurun, hingga hari ini. Pacu itiak sekarang tidak lagi digelar di sawah, tapi beralih ke gelanggang

Visit Pacu Itiak

Don't miss this amazing opportunity to enjoy our services!

Taman Wisata Equator

Taman Wisata Equator

YOU Are Crossing The Equator merupakan kalimat yang tertulis pada saat memasukin kecamatan Bonjol Sumatera Barat.

Daerah ini masuk ke dalam wilayah Sumatera Lintas Tengah. Titik nol di Kota Bonjol ditandai dengan bangunan bernama Taman Wisata Equator. Di depannya terdapat tulisan, “Anda melintasi khatulistiwa”.

Tugu Equator di Kota Bonjol membentuk sebuah bangunan bulat seperti kubah berwarna biru muda, mirip globe.

Pada bagian pintu masuk, Sobat Pesona akan menemukan bola dunia kecil yang disanggah dengan tiang. Bola dunia ini dikelilingi tulisan “Equator”. Di sekitar Taman Wisata Equator, terdapat rumah khas Minangkabau yang menjadi ciri khas masyarakat adat di sana.

Fenomena alam ini terjadi dalam dua tahun sekali. Saat awal tahun, peristiwa ini terjadi pada 21-23 Maret. Sementara jika Sobat Pesona berencana datang ke Kota Bonjol pada September, datanglah ke Taman Wisata Equator pada rentang 21-23 September.

Untuk menyambut fenomena tersebut, pemerintah lokal biasanya akan menyelenggarakan festival yang berlangsung selama beberapa hari. Biasanya akan diadakan penampilan seni dan budaya selama festival berlangsung.

Usai menikmati fenomena nol derajat, Sobat Pesona bisa langsung melanjutkan wisata ke Museum Tuanku Imam Bonjol yang lokasinya berdekatan dengan Taman Wisata Equator.

Monumen Imam Bonjol dibangun untuk menghormati perjuangan Tuanku Imam Bonjol dalam mengalahkan penjajah dan penyebaran agama Islam. Sobat Pesona bisa menemukan museum ini dengan mudah karena ada patung kuda yang ditunggangi Tuanku Imam Bonjol, salah satu “pose” yang menjadi ciri khasnya.

Museum tersebut menyimpan barang-barang peninggalan Tuanku Imam Bonjol, mulai dari sejarah perjuangan, etnografi dan foto. Selain itu, museum tersebut juga menyimpan barang-barang pribadi Tuanku Imam Bonjol, termasuk senjata perang, lukisan, dan silsilah keluarga.

Visit Wisata Equator

Don't miss this amazing opportunity to enjoy our tourist attraction services!

Gunung Talang

Gunung Talang

Setiap mengingat Sumatera Barat, di benak kebanyakan orang pasti langsung terbayang kelezatan masakan khas rendang. Rasa kuliner satu ini terbukti telah menaklukkan hati banyak orang, hingga berkali-kali dinobatkan sebagai makanan terenak di dunia.

Di sisi lain, Sumatera Barat juga memiliki pesona alam yang siap menaklukkan hati siapa saja. Pesona alam bisa ditemukan di Gunung Talang. Gunung Talang adalah gunung berapi aktif yang berdiri gagah setinggi 2.597 mdpl. Di kalangan masyarakat setempat dan para pencinta alam, gunung yang terakhir meletus tahun 2007 ini terkenal memiliki jalur pendakian yang sangat menantang.

Untuk kamu yang suka tantangan, Gunung Talang sangat wajib masuk ke daftar destinasi liburan berikutnya. Yuk, simak beberapa info penting tentang Gunung Talang agar kamu semakin mantap menaklukkan tantangannya!

Visit Gunung Talang

Don't miss this amazing opportunity to enjoy our tourist attraction services!

Pasar Van der Capellen

Pasar Van der Capellen

wisata kuliner di batusangkar

Terdapat beberapa pasar kuliner di Sumatera Barat, satunya berada di Kabupaten Tanah Datar. Wisata kuliner berpadu budaya ini jadi sasaran liburan akhir pekan.

Menikmati keindahan Minangkabau tak lengkap rasanya bila tak mencicipi racikan masakan setempat. Nah, jika kamu liburan ke Kabupaten Tanah Datar, datang saja ke Pasar Van der Capellen yang berada di Batusangkar.

Unik nya lagi di Pasar Van der Capellen untuk bertransaksi ada mata uang khusus, yakni koin Capellen. Koin ini bisa didapat dengan menukar di meja panitia. Satu koin bernilai Rp 2.500. Ada berbagai pedagang di bawah payung dari bambu dengan pilihan beragam.

Selain jajanan lama khas Minang, baju yang dikenakan penjual berupa “baju kuruang basibah” lengkap dengan peralatan makan jaman dulu.

Selain kuliner, pasar Van der Capellen juga menjadi spot foto yang instagrammable.

Banyak pengunjung yang berfoto bersama untuk mengabadikan momen tersebut.

Pengunjung tak hanya dari Batusangkar saja namun ada juga dari luar Batusangkar

Puncak Aua Sarumpun

Puncak Aua Sarumpun

Puncak Aua Sarumpun adalah destinasi wisata alam yang menawan. Dari puncak ini, pengunjung dapat menikmati panorama 360 derajat yang memukau, termasuk pemandangan Danau Singkarak yang luas serta empat gunung megah: Merapi, Singgalang, Talang, dan Sago. Keindahan alam ini menjadikan Puncak Aua Sarumpun sebagai tempat yang ideal untuk melepas penat dan menikmati ketenangan alam.​

Perjalanan menuju puncak memerlukan usaha ekstra karena medan yang menanjak dan sebagian jalan masih berupa bebatuan. Namun, setibanya di atas, semua lelah terbayar dengan pemandangan yang luar biasa. Hamparan ilalang yang luas menambah keindahan tempat ini, dan tersedia rumah pohon yang menjadi spot favorit untuk berfoto dengan latar belakang Danau Singkarak dan pegunungan. Fasilitas di area ini cukup lengkap, termasuk area parkir, mushola, toilet, serta warung-warung yang menjual makanan dan minuman untuk memenuhi kebutuhan pengunjung.​

Selain keindahan alamnya, Puncak Aua Sarumpun juga menawarkan berbagai aktivitas menarik seperti flying fox dan kolam renang untuk anak-anak, remaja, dan dewasa. Tersedia juga homestay bagi pengunjung yang ingin menginap dan menikmati suasana malam di puncak. Kuliner khas daerah seperti buah kuini, ikan bilih, dan kerupuk ubi lapih juga dapat dinikmati di sini, menambah pengalaman wisata yang berkesan.

Puncak Aur Sarumpun berlokasi di Kecamatan Rambatan, Kabupaten Tanah Datar

Museum Goedang Ransoem

Museum Goedang Ransoem

Museum Goedang Ransoem adalah salah satu museum di Indonesia yang terletak di Jalan Arif Rahman Hakim, Kelurahan Air Dingin, Kecamatan Lembah Segar, Kota Sawahlunto, Sumatra Barat. Museum ini berada sekitar 94 kilometer atau dua jam perjalanan dengan kendaraan dari Kota Padang.

Museum Goedang Ransum menempati sebuah kompleks bangunan bekas dapur umum para pekerja tambang batu bara dan pasien RSU Sawahlunto yang ketika itu berjumlah ribuan. Gedung Museum Goedang Ransum sendiri dibangun pada 1918 sewaktu penjajahan Belanda. Dapur umum ini dilengkapi dua buah gudang besar dan steam generator (tungku pembakaran) untuk memasak 3.900 kg beras setiap hari bagi para pekerja tambang batu bara.

Kota Sawahlunto dulunya dikenal sebagai penghasil batu bara terbesar di Nusantara. Dari kota inilah pemerintah Hindia Belanda meraup keuntungan amat besar dari batu bara tersebut. Museum Goedang Ransoem sendiri menjadi bagian yang tak terpisahkan dari proses pertambangan di Sawahlunto

Visit Muesum Doedenag Ransoem

Don't miss this amazing opportunity to enjoy our tourist attraction services!

MUSEUM KERETA API SAWAHLUNTO

MUSEUM KERETA API SAWAHLUNTO

MUSEUM KERETA API SAWAHLUNTO

Industri batu bara tertua Asia Tenggara ada di Indonesia. Pada tahun 1868 W.H De Greeve seorang geolog berkebangsaan Belanda menulis tentang penemuan batu bara berkualitas tinggi di Ombilin,

Sawahlunto, Sumatera Barat. Sejak saat itu Kota Sawahlunto berubah menjadi kota tambang batu barang yg multikural dengan kereta sebagai sarana pengangkutannya. Sistem distribusi batu bara dan kereta api merupakan yang tercanggih di akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. 

 

Namun pada 2002 – 2003 tambang batu bara di ombilin banyak ditutup karena cadangan batubara yg mulai habis. KAI bekerjasama dengan pemkot Sawahlunto memanfaatkan aset Stasiun Sawahlunto menjadi museum kereta api untuk mempreservasi berbagai peninggalan sejarah perkeretaapian terutama sejak kereta api dan jalurnya mulai non aktif pada 2005.

 

Museum Sawahlunto adalah museum KA kedua yg diresmikan setelah museum KA ambarawa. Disini terdapat berbagai koleksi, seperti: Gerbong, Lokomotif Uap Mak Itam, jam dinding, prasarana kereta, foto – foto dan beberapa alat alat pertambangan.

 

Museum ini terletak 95 km dari kota padang. Harga tiket hanya Rp. 4.000,- per orang anda bisa melihat sejarah dan peran perkeretaapian dalam pertambangan batu bara di Sumatera Barat. Museum ini buka dari jam 08.00 – 17.00 di hari kerja dan jam 08.00 – 16.00 di akhir pekan.

 

Visit Museum Kereta Api Sawahlunto

Don't miss this amazing opportunity to enjoy our tourist Attraction services!

LUBANG MBAH SOERO

LUBANG MBAH SOERO

Terdapat sebuah lubang bekas tambang batu bara di Kota Sawahlunto yang disebut dengan Lubang Mbah Suro atau Lubang Soegar karena berada di daerah Lembah Soegar. Lubang tersebut menyimpan sejarah tentang orang rantai. Salah satunya Mbah Suro yang menjadi mandor para orang rantai di Sawahlunto. Orang rantai merupakan sebutan untuk para pekerja tambang di Sawahlunto. Mereka dikirim dari berbagai daerah di Hindia Belanda termasuk Batavia. 

 

Mereka adalah tahanan kriminal atau politik dari wilayah Jawa dan Sumatera. Mereka dibawa Ke Sawahlunto dengan kondisi kaki, tangan dan leher masih dirantai. Mereka dipekerjakan hingga tahun 1898. 

 

Mbah Suro atau disebut juga dengan Lemhak Soerono dikenal memiliki ilmu kebatinan yang tinggi dan menjadi panutan serta disegani oleh warga sekitar. Mbah Suro memiliki 5 anak dengan 13 cucu. Istrinya merupakan seorang dukun beranak . Mbah Suro meninggal sebelum tahun 1930 dan dimakamkan di pemakaman orang rantai yakni di Tanjung Sari, Kota Sawahlunto.

 

Lubang ini memiliki lebar dua meter dengan ketinggian dua meter dan kedalaman mencapai 15 meter di permukaan tanah. Serta memiliki panjang 1,5 kilometer di bawah Kota Sawahlunto. Sejak tahun 1982, Kota Sawahlunto mulai memproduksi batu bara dan seiring berjalannya waktu, kota ini pun menjadi kawasan pemukiman pekerja tambang dan terus berkembang menjadi sebuah kota kecil. 

 

Lubang Mbah Suro berlokasi di Jl. Abdurrahmanhakim, Tanah Lapang, Kecamatan Lembah Segar, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat  

 

Visit Goa Mbah Soero

Don't miss this amazing opportunity to enjoy our Hotel services!

BUNGA RAFLESIA

BUNGA RAFLESIA

Rafflesia arnoldii atau padma raksasa merupakan tumbuhan parasit obligat yang tumbuh pada batang liana (tumbuhan merambat) dari genus Tetrastigma. Spesies Raflesia yang lainnya juga memiliki inang yang sama. Rafflesia arnoldii pertama kali ditemukan pada tahun 1818 di hutan tropis Sumatera oleh seorang pemandu yang bekerja pada Dr. Joseph Arnold yang sedang mengikuti ekspedisi Thomas Stanford Raffles, sehingga tumbuhan ini diberi nama sesuai sejarah penemunya yakni penggabungan antara Raffles dan Arnold.

Rafflesia arnoldii tidak memiliki daun sehingga tidak mampu melakukan fotosintesis sendiri dan mengambil nutrisi dari pohon inangnya. Bentuk yang terlihat dari bunga Raflesia ini hanya bunganya saja yang berkembang dalam kurun waktu tertentu. Keberadaannya seakan tersembunyi selama berbulan-bulan di dalam tubuh inangnya hingga akhirnya tumbuh bunga yang hanya mekar seminggu. Bunga Raflesia adalah identitas provinsi Bengkulu dan sebagai salah satu puspa langka dari tiga bunga nasional Indonesia mendampingi puspa bangsa (melati putih atau Jasminum sambac) dan puspa pesona (anggrek bulan atau Phalaenopsis amabilis) berdasarkan Kepres No 4 Tahun 1993 tentang Satwa dan Bunga Nasional.

Visit Raflesia

Don't miss this amazing opportunity to enjoy our tourist attraction services!