

Pesantren Thawalib adalah pondok pesatren yang ada di Kota Padang Panjang. Cikal bakal Perguruan ini berawal dari pengajian berbasis halaqah di Surau Jembatan Besi, yang sudah ada sebelum 1900. Pengajian ini awalnya dipimpin oleh Syekh Abdullah Ahmad. Pada 1911, Abdullah Ahmad digantikan oleh DR. H. Abdul Karim Amrullah, seorang ulama besar yang baru pulang belajar dari Mekah yang dikenal dengan sebutan Inyiak Rasul, dan ia merupakan ayah dari Buya Hamka. Ia mengubah sistem belajar dari halaqah menjadi klasikal. Pada 1926 di bawah pimpinan Tuanku Mudo Abdul Hamid Hakim, dibangun lokal belajar di Jalan Lubuk Mata Kucing (Kampus Thawalib Putra sekarang).
Sejak 1959, Perguruan Thawalib dipimpin oleh H. Mawardi Muhammad. Pada 1974, membuka Perguruan Tinggi Fakultas Dakwah dan Publisistik, Fakultas Syari’ah Wal Qanun bersama dengan Prof. DR. KH. Zainal Abidin Ahmad (Alumni Thawalib ). Setelah itu, Perguruan Thawalib dipimpin oleh murid-murid H. Mawardy Muhammad, yakni Drs. H. Abbas Arief, H. Djawarnis, Lc., Prof. DR. Sirajuddin Zar (mantan Rektor IAIN Imam Bonjol), Prof. DR. H. Tamrin Kamal, MS, dan Firdaus Tamin, BA.
Pada 1989, Perguruan Thawalib menerima siswi khusus putri, tempat belajar dan asramanya terpisah dari Thawalib Putra. Pada 2002, Thawalib menambah lagi jenjang pendidikan, yaitu dengan mendirikan Taman Kanak-Kanak Al Quran (TKA), yang kemudian dilanjutkan membuka Madrasah Ibtidaiyah Unggul Terpadu (MIUT) pada tahun 2004.
Perguruan Thawalib berlokasi di Jalan Abdul Hamid Hakim No. 12, Pasar Usang, Padang Panjang Barat, Kec. Padang Panjang Barat, Kota Padang Panjang, Sumatera Barat.





