Tradisi Malamang

Tradisi Malamang

Tradisi Malamang merupakan suatu budaya yang telah tumbuh dan berkembang di lingkungan masyarakat Padang Pariaman. Tradisi Malamang merupakan cara memasak dengan menggunakan media bambu yang kemudian dibakar diatas bara api. Tradisi Malamang pertama kali diperkenalkan oleh Syekh Bahauddin  kepada masyarakat Padang Pariaman pada saat beliau menyebarkan agama islam di daerah Ulakan.

Beras ketan yang sudah dicuci bersih dicampur dengan santan kental dari perasan kelapa tua yang diberi garam, lalu dimasukkan ke dalam bambu yang dilapisi daun pisang untuk mencegah lengket. Bambu tersebut kemudian diletakkan miring di atas bara api dan dipanggang selama beberapa jam, dengan sesekali diputar agar matang merata. Setelah matang, lamang dikeluarkan dari bambu dan siap disajikan, biasanya bersama tapai atau lauk lainnya.

Hingga saat ini Tradisi Malamang masih dijalankan oleh masyarakat Padang Pariaman. Tradisi Malamang selalu dilaksanakan pada saat Maulid Nabi Muhammad SAW. Dalam kalender masyarakat Padang Pariaman yang berpedoman pada kalender Islam, Tradisi Malamang dilaksanakan pada Rabiul Awal, Rabiul Akhir dan Jumadil Awal. Selain itu juga dilaksanakan pada bulan Sya’ban, yang dikenal sebagai bulan Lamang.

Tradisi Malamang yang erat kaitannya dengan tradisi yang menghasilkan pangan bagi masyarakat Padang Pariaman yakni Lamang yang merupakan kearifan lokal masyarakat Padang Pariaman serta Tradisi Malamang sangat selaras untuk dilestarikan kebudayaannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *