Pantai Gondoriah

Pantai Gondoriah

Rasanya tidak lengkap jika anda berwisata kalau tidak singgah ke pantai Gandoriah. Pantai Gandoriah merupakan sebuah ruas pantai  wisata dengan panorama pulau-pulau kecil di pusat kota Pariaman. Perpaduan posisi yang strategis, panorama yang indah, dan dataran pantai yang landai, membuat pantai ini menjadi salah satu objek wisata pantai paling populer di Pariaman.

Pantai Gandoriah memiliki kisah tersendiri. Gandoriah merupakan nama seorang gadis dalam cerita rakyat Minangkabau. Kisah tersebut menceritakan perjalanan cinta seorang pemuda bernama Anggun Nan Tongga dengan Puti Gandoriah, yang tak lain adalah sepupunya.

Panorama laut memang menjadi salah satu keunggulan utama pantai Gandoriah ini. Dilepas pantai setidaknya terdapat gugusan 6 pulau kecil yang terlihat bagian menghias Cakrawala. Pulau Angso Duo, Pulau Tangah, Pulau Ujung, Pulau Gosong dan Pulau Bundo. Disamping menikmati keindahan panoramanya, pantai ini juga menyajikan berbagai.

Keunggulan yang dimiliki Pantai Gandoriah Pariaman juga didukung oleh aksesnya yang strategis. Posisinya yang berada di pusat kota, dan di Pantai Gandoriah ini menjadi lokasi penyelenggaraan acara puncak tradisi Tabuik. Karenanya, jika saat momentum tersebut tiba, pantai ini berubah menjadi lautan manusia yang datang dari berbagai penjuru Sumatera Barat.

Untuk berwisata di Pantai ini anda hanya perlu membayar seharga Rp 5000,- saja dengan parkir motor Rp 5000,- dan mobil Rp 10.000,-. Pantai Gandoriah ini juga menyediakan fasilitas yang lengkap diantaranya: lahan parkir luas, kamar mandi, toilet, mushalla, warung makan, penyewaan scooter listrik dan andong untuk berkeliling pantai, dan ada gazebo dan tempat bersantai. 

Pantai Gandoriah dapat diakses dari kota Padang dengan menempuh perjalanan selama 1 jam 30 menit. Kompleks Wisata Gandoriah, Jl. Nasri Nasar, Pariaman Tengah, Pariaman, Sumatera Barat.

Tambue Tansa

Tambue Tansa

Tambua atau dalam bahasa Pariamannya Tambue dan Tansa yaitu kesenian khas daerah Pariaman, Sumatera Barat berupa alat musik perkusi yang terdiri dari dua alat musik yaitu Gendang Tambua dan Gendang Tansa. Alat musik ini dimainkan dalam grup ditabuh secara terus menerus dalam formasi dengan 7 orang penabuh yang terbagi menjadi 6 orang pemain Tambua dan 1 orang pemain Tansa. Gandang Tambua berbentuk seperti tabung yang bahan terbuat dari kayu dengan dua permukaan kulit. Sedangkan Gandang Tansa mirip seperti setengah bola yang hanya memiliki satu sisi kulit.

Kesenian ini berasal dari bangsa India yang dibawa oleh pedagang Gujarat (India) ke Tiku Pariaman yang dulu merupakan pelabuhan terbesar di Pantai Barat Minangkabau pada abad 14 masehi. Alat musik tersebut mulai berkembang di berbagai daerah di Minangkabau seperti di Maninjau dan Lubuak Basuang, faktor percampuran kebudayaan, baik akibat perkawinan maupun perdagangan antara masyarakat pribumi Minangkabau di Pariaman dengan kaum pendatang dari Selatan.

Tambua Tansa berfungsi sebagai  pertunjukan kesenian tujuannya adalah untuk mengundang perhatian para pengunjung agar tercipta suasana keramaian dalam berbagai upacara adat dan keagamaan seperti: upacara pengangkatan penghulu, penyambutan tamu asing, khatam Al-qur’an, adat nagari, dan upacara perkawinan. Tambua Tansa berasal dari Pariaman, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat.

Salalauak

Salalauak

Sala Lauak adalah makanan gorengan khas Pesisir Ulakan Padang Pariaman, Sumatera Barat yang berbahan beras berwarna kuning kecoklatan. Sala Lauak memiliki dua jenis, yaitu Sala Lauak keras dan Sala Lauak lunak. Perbedaan diantara keduanya yaitu, Sala Lauak keras berbentuk bulat seperti bola pingpong, terbuat dari ikan asin yang dihaluskan, dengan tekstur keras di bagian luar dan lembut di bagian dalam. Sedangkan Sala Lauak Lunak berbentuk lebih pipih dengan tekstur lebih lunak.

Sala Lauak mengandung gizi yang cukup baik, salah satunya vitamin E, selenium, omega 3, zat besi, kalsium, dan asam lemak esensial. Sala Lauak ini wajib anda coba jika berkunjung ke Sumatera Barat khususnya Pariaman. Karena Kuliner ini tidak ada didaerah lain di Sumatera Barat melainkan hanya ada di Pariaman saja.

Puncak Anai

Puncak Anai

Puncak Anai merupakan suatu kawasan liburan yang menawarkan keindahan alami dan hawa yang sejuk. Sesuai dengan namanya puncak, hawa yang sejuk langsung menyambut kita. Puncak Anai berada di ketinggian 600-700 mdpl. Taman-taman tertata bersih dan rapi, sehingga menyejukkan mata yang memandang.

Puncak Anai ini sendiri berada di kaki Gunung Tandikek, sungai yang mengalir disini juga berasal dari kaki Gunung Tandikek. Di sekeliling Puncak Anai kita masih bisa menyaksikan hutan alam dimana pohon-pohon alami masih tampak menjulang tinggi, dan masih termasuk kawasan cagar alam Lembah Anai.

Pengunjung dapat melakukan kegiatan berenang di kolam alam dengan air pegunungan. Puncak Anai ini memiliki kolam besar dan beberapa kolam kecil di sekitarnya dimana airnya sangat alami, dingin dan sejuk menyegarkan. Kegiatan lainnya seperti bermain perahu, sky bike, spot gembok cinta, camping ground dan juga sudah disediakan penginapan, villa dan cottage.

Lokasi Puncak Anai berjarak 72 km dari kota Padang dengan waktu tempuh sekitar 2 jam. Lokasi ini beralamat pasti di Kayu Tanam, Desa Guguak Kecamatan Enam Lingkung, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat.  

Tradisi Malamang

Tradisi Malamang

Tradisi Malamang merupakan suatu budaya yang telah tumbuh dan berkembang di lingkungan masyarakat Padang Pariaman. Tradisi Malamang merupakan cara memasak dengan menggunakan media bambu yang kemudian dibakar diatas bara api. Tradisi Malamang pertama kali diperkenalkan oleh Syekh Bahauddin  kepada masyarakat Padang Pariaman pada saat beliau menyebarkan agama islam di daerah Ulakan.

Beras ketan yang sudah dicuci bersih dicampur dengan santan kental dari perasan kelapa tua yang diberi garam, lalu dimasukkan ke dalam bambu yang dilapisi daun pisang untuk mencegah lengket. Bambu tersebut kemudian diletakkan miring di atas bara api dan dipanggang selama beberapa jam, dengan sesekali diputar agar matang merata. Setelah matang, lamang dikeluarkan dari bambu dan siap disajikan, biasanya bersama tapai atau lauk lainnya.

Hingga saat ini Tradisi Malamang masih dijalankan oleh masyarakat Padang Pariaman. Tradisi Malamang selalu dilaksanakan pada saat Maulid Nabi Muhammad SAW. Dalam kalender masyarakat Padang Pariaman yang berpedoman pada kalender Islam, Tradisi Malamang dilaksanakan pada Rabiul Awal, Rabiul Akhir dan Jumadil Awal. Selain itu juga dilaksanakan pada bulan Sya’ban, yang dikenal sebagai bulan Lamang.

Tradisi Malamang yang erat kaitannya dengan tradisi yang menghasilkan pangan bagi masyarakat Padang Pariaman yakni Lamang yang merupakan kearifan lokal masyarakat Padang Pariaman serta Tradisi Malamang sangat selaras untuk dilestarikan kebudayaannya.

Grand Buana Lestari Hotel

Grand Buana Lestari Hotel

Buana Lestari Hotel adalah tempat yang tepat bagi wisatawan yang mencari penginapan nyaman dengan harga terjangkau dan fasilitas lengkap di Sumatera Barat. Dari akomodasi yang nyaman hingga layanan yang prima, Buana Lestari Hotel siap memberikan pengalaman menginap yang menyenangkan bagi Anda dan keluarga. 

Buana Lestari Hotel menawarkan fasilitas yang mendukung kenyamanan tamu selama menginap. Fasilitas yang tersedia di antaranya: kamar, restoran, kafe dan ruang pertemuan. Selain fasilitas lengkap, Buana Lestari Hotel dikenal dengan pelayanan yang ramah dan profesional. Staf hotel selalu siap membantu kebutuhan tamu selama menginap, sehingga para tamu merasa nyaman dan betah.

Menginap di Buana Lestari Hotel juga memberikan pengalaman unik, terutama bagi para tamu yang ingin merasakan sentuhan budaya lokal. Dekorasi hotel, layanan yang penuh kehangatan, serta hidangan tradisional yang tersedia di restoran hotel memberikan kesan autentik yang khas.  Untuk memesan tiket atau bokingan jauh hari sebelumnya, terutama saat musim liburan, karena hotel ini sering penuh.

 

Buana Lestari Hotel berlokasi di Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Dan lokasi hotel ini memiliki akses mudah ke beberapa objek wisata. Dengan berbagai destinasi menarik yang dapat dijangkau dalam waktu singkat, seperti:Pantai Gandoriah.  Hotel ini sangat cocok bagi para wisatawan yang ingin menjelajahi keindahan alam dan budaya Pariaman.

Pemandian Lubuk Bonta

Pemandian Lubuk Bonta

Pemandian Lubuk Bonta

Berbicara tentang wisata alam Pariaman memang tak ada habisnya. Salah satunya adalah mata air alami yang menjadi primadona sekaligus sebagai tempat untuk bersantai dan menghilangkan penat. Mata air alami ini bernama Pemandian Rumah Putih Lubuk Bonta. Disini anda akan dimanjakan dengan birunya mata air, dan jernihnya air. Ikan-ikan yang berenang dan lumut di dasar mata air terlihat sangat jelas.

Mata air ini merupakan mata air dari Gunung Tandikek yang pastinya memiliki air yang sejuk. Lokasinya yang berada dekat dengan Gunung Tandikek menambah kesan sejuk dan asri. Jika berkunjung kesini anda tidak akan membayar tiket masuk, tetapi cukup dengan membayar biaya parkir saja. Harga nya pun sangat terjangkau untuk mobil Rp 15.000,- dan Motor Rp 5000,- 

Fasilitas Pemandian Rumah Putih Lubuk Bonta ini cukup lengkap. Diantaranya: kamar ganti pakaian, Mushala, dan aneka jajanan yang dapat anda coba. Jika anda berkunjung disarankan untuk membawa pakaian ganti.

Pemandian Rumah Putih Lubuak Bonta ini dapat diakses dengan motor ataupun mobil. Mata Air ini berlokasi di Kapalo Hilalang, Kec Kayu Tanam, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat.

Tradisi Bajapuik

Tradisi Bajapuik

Tradisi Bajapuik

Simbol Cinta dan Komitmen dari Pariaman

Indonesia memiliki banyak keberagaman dan kebudayaan, salah satunya Sumatera Barat. Ranah Minang ini memiliki beraneka budaya dengan kehidupan sosial penduduknya dan selalu menarik untuk dipelajari. Sumatera Barat memiliki salah satu daerah yang adat perkawinannya beda dengan daerah Minangkabau lainya, yaitu Pariaman. Pariaman memiliki adat atau tradisi yang unik yaitu Tradisi Bajapuik.

Tradisi Bajapuik adalah tradisi pernikahan khas Minangkabau. Tradisi ini tidak dilaksanakan di daerah Minangkabau lainnya, khusus dilaksanakan di Pariaman saja. Keunikan tradisi ini terletak pada proses sebelum pernikahan, yang mana pihak perempuan memberikan uang japuik atau uang jemputan kepada pihak laki-laki.Tujuan ini dilakukan agar menghargai pihak laki-laki yang sudah dibesarkan sedari kecil. Semakin tinggi pekerjaan atau jabatan laki-laki tersebut maka semakin besar pula uang jemputannya.

Pelaksanaannya sebelum akad nikah, pihak perempuan memberikan uang japuik kepada pihak laki-laki. Pada saat pemberian imbalan pada acara Manjalang Mintuo, pihak perempuan akan menerima imbalan balik oleh keluarga laki-laki. Seperti emas, uang dan aneka makanan.

Dalam Tradisi Bajapuik berlakulah nilai moral yakni, “datang karano di panggia, tibo karano dijapuik”. Artinya datang karena di panggil, tiba karena dijemput. Prosesi pernikahan di Pariaman, selalu laki-laki yang diantar ke rumah istrinya.

Tradisi Bajapuik ini memiliki makna positif, dimana tradisi ini bertujuan untuk menghargai pihak mempelai laki laki karena telah membesarkan anak laki laki mereka. Tentunya Tradisi Bajapuik ini bukan ajang untuk memperjual belikan manusia.

Bajapuik sendiri merupakan golongan adat yang di adat kan, yaitu adat ini disusun berdasarkan kesepakatan oleh masyarakat setempat dan bisa berubah sewaktu-waktu sesuai dengan kesepakatan dari masyarakat tersebut.

Muaro Mati Tiku

Muaro Mati Tiku

Muaro Mati Tiku

Muaro Mati adalah Muara kalau orang minang biasa menyebut muara ini adalah “Muaro”. Kenapa disebut Muaro Mati, karena laguna kecil ini tidak dialiri oleh air sungai melainkan ombak yang menghempas dari bibir pantai lalu mengalirlah air laut ini membentuk laguna.

 Hamparan  rumput hijau dan luas berpagar deretan cemara jadi ciri khas pantai ini. Lautnya berhias ombak yang tenang, membuatnya cocok untuk bermain air dan bersantai menikmati sunset. Muara ini berada di kawasan tanjung yang menjorok ke laut.

Laguna juga disebut dengan muara mati ini memiliki panorama yang sangat indah dengan rumput yg hijau dan barisan pohon kelapa. Selain itu muara ini juga memiliki habitat aneka jenis ikan dan kerang yang beragam. 

Langkitang dan pensi adalah jenis kerang yg banyak terletak di laguna tiku. Olahan kerang ini menjadi salah satu kuliner favorit pengunjung. Selain itu disini juga memiliki kuliner lainya seperti sate lokan, kepiting, udang, dan tidak lupa kuliner khas utama Pariaman yaitu sala bulek.

Muaro mati merupakan laguna yang mempesona di pesisir Sumatera Barat. Muaro ini tepatnya terletak di bibir pantai pasia tiku di Nagari Tiku Selatan, Kecamatan Tanjung Mutiara, Kabupaten Agam.

Pulau Angso Duo

Pulau Angso Duo

Pulau Angso Duo

Surga Kecil di Pesisir Pariaman

Pulau Angso Duo adalah pulau kecil yang terletak di lepas pantai Kota Pariaman, Sumatera Barat, dan menjadi salah satu destinasi wisata unggulan di daerah ini. Pulau ini mudah diakses dengan perahu dari Pantai Gandoriah, hanya memakan waktu sekitar 15 menit. Keindahan Pulau Angso Duo terletak pada pasir putih yang lembut, air laut yang jernih, serta suasana pantai yang tenang dan alami.

Di Pulau Angso Duo, pengunjung dapat melakukan berbagai aktivitas rekreasi air, seperti berenang dan snorkeling, menikmati keindahan terumbu karang dan kehidupan bawah laut yang menarik. Pulau ini juga memiliki hutan bakau yang asri, menawarkan suasana hijau dan segar yang cocok untuk wisata alam. Selain aktivitas air, Pulau Angso Duo juga menyediakan area yang cocok untuk berkemah bagi wisatawan yang ingin menikmati malam di tengah alam.

Nama Angso Duo berasal dari kata dua angsa. Pada zaman dahulu dua orang petinggi adat menemukan pulau ini, pada saat itu mereka mengenakan baju putih. Dari jauh mereka terlihat seperti dua angsa. Sejak saat itulah Pulau ini dinamakan dengan Pulau Angso Duo.

Dengan suasana pantai yang indah dan alami, Pulau Angso Duo sangat cocok bagi wisatawan yang ingin melepas penat atau sekadar menikmati keindahan alam. Pulau ini menjadi salah satu tempat favorit bagi para wisatawan lokal maupun mancanegara yang berkunjung ke Sumatera Barat.