Puncak Aua Sarumpun

Puncak Aua Sarumpun

Puncak Aua Sarumpun adalah destinasi wisata alam yang menawan. Dari puncak ini, pengunjung dapat menikmati panorama 360 derajat yang memukau, termasuk pemandangan Danau Singkarak yang luas serta empat gunung megah: Merapi, Singgalang, Talang, dan Sago. Keindahan alam ini menjadikan Puncak Aua Sarumpun sebagai tempat yang ideal untuk melepas penat dan menikmati ketenangan alam.​

Perjalanan menuju puncak memerlukan usaha ekstra karena medan yang menanjak dan sebagian jalan masih berupa bebatuan. Namun, setibanya di atas, semua lelah terbayar dengan pemandangan yang luar biasa. Hamparan ilalang yang luas menambah keindahan tempat ini, dan tersedia rumah pohon yang menjadi spot favorit untuk berfoto dengan latar belakang Danau Singkarak dan pegunungan. Fasilitas di area ini cukup lengkap, termasuk area parkir, mushola, toilet, serta warung-warung yang menjual makanan dan minuman untuk memenuhi kebutuhan pengunjung.​

Selain keindahan alamnya, Puncak Aua Sarumpun juga menawarkan berbagai aktivitas menarik seperti flying fox dan kolam renang untuk anak-anak, remaja, dan dewasa. Tersedia juga homestay bagi pengunjung yang ingin menginap dan menikmati suasana malam di puncak. Kuliner khas daerah seperti buah kuini, ikan bilih, dan kerupuk ubi lapih juga dapat dinikmati di sini, menambah pengalaman wisata yang berkesan.

Puncak Aur Sarumpun berlokasi di Kecamatan Rambatan, Kabupaten Tanah Datar

ISTANA SILINDUNG BULAN

ISTANA SILINDUNG BULAN

Istano Si Linduang Bulan adalah salah satu istana bersejarah. Istana ini memiliki nilai sejarah dan budaya yang tinggi bagi masyarakat Minangkabau, karena menjadi saksi bisu perjalanan panjang Kerajaan Pagaruyung dan peralihan hukum adat ke syariat Islam pada abad ke-16.​

 

Nama “Si Linduang Bulan” diberikan pada tahun 1550 oleh Sultan Bakilap Alam, Raja Alam Pagaruyung, ketika memindahkan pusat kerajaan dari Ulak Tanjuang Bungo ke Balai Janggo. Peristiwa ini menandai penerapan resmi hukum Islam menggantikan hukum Buddha Tantrayana yang sebelumnya berlaku di kerajaan tersebut. 

 

Sejak awal berdirinya, Istano Si Linduang Bulan telah mengalami beberapa kali kebakaran dan renovasi. Bangunan pertama dibangun kembali pada tahun 1750 karena kondisi yang sudah tua. Pada tahun 1821, istana ini terbakar dalam Perang Padri. Kemudian, pada tahun 1869, dibangun kembali oleh Yang Dipertuan Gadih Puti Reno Sumpu. Kebakaran berikutnya terjadi pada 3 Agustus 1961, dan istana kembali dibangun pada tahun 1987 serta diresmikan pada tahun 1989. 

Arsitektur Istano Si Linduang Bulan mengadopsi gaya rumah gadang Minangkabau dengan model “alang babega”, yang merupakan ciri khas rumah gadang seorang raja. Bangunan ini memiliki ukuran 28 x 8 meter, dengan tujuh gonjong (tanduk) yang menjulang ke langit. Di halamannya terdapat dua rangkiang (lumbung padi) bernama Si Bayau-bayau dan Si Tinjau Lauik. Struktur rumah didukung oleh 52 tiang, masing-masing memiliki nama dan fungsi tersendiri dalam adat Minangkabau. ​

Istano Si Linduang Bulan tidak hanya menjadi simbol kebesaran Kerajaan Pagaruyung, tetapi juga pusat pelestarian budaya dan adat Minangkabau. Dengan keindahan arsitektur dan nilai sejarah yang dimilikinya, istana ini menjadi destinasi wisata budaya yang menarik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara yang ingin mengenal lebih dekat warisan budaya Minangkabau.

Istano Si Linduang Bulan berlokasi di Pagaruyuang, Kecamatan Tanjung Emas, Kabupaten Tanah Datar.