Batiah Payakumbuh

Batiah Payakumbuh

Batiah adalah salah satu camilan tradisional khas payakumbuh yang terbuat dari beras ketan dan gula merah. Camilan ini memiliki tekstur renyah di luar dengan rasa manis yang khas, menjadikannya salah satu hidangan ringan yang sangat digemari dan menjadi oleh oleh favorit wisatawan yang berkunjung ke payakumbuh. 

Batiah biasanya dibuat dengan proses yang sederhana namun membutuhkan ketelitian. Beras ketan direndam hingga lembut, kemudian dimasak hingga menjadi adonan kental. Setelah itu, adonan dibentuk menjadi bulatan-bulatan kecil dan digoreng hingga matang. Langkah terakhir adalah mencampur Batiah dengan gula merah cair yang telah dimasak hingga mengental. Gula ini memberikan lapisan manis yang khas pada setiap butir batiah.

Camilan ini sering dihidangkan sebagai teman minum teh atau kopi, terutama saat berkumpul dengan keluarga atau tamu. Selain itu, batiah juga sering dijadikan oleh-oleh khas dari Payakumbuh, Sumatera Barat, karena daya tahannya yang cukup lama jika disimpan dengan baik. 

Tan Malaka

Tan Malaka

Tan Malaka adalah salah satu tokoh besar dalam sejarah perjuangan Indonesia. beliau dikenal sebagai seorang intelektual, revolusioner, dan pemikir yang memberikan kontribusi signifikan dalam membangun fondasi ideologi kemerdekaan bangsa. Meski namanya sempat tenggelam dalam narasi sejarah resmi, jejak perjuangannya tetap menjadi inspirasi bagi generasi penerus.

Tan Malaka lahir dengan nama Ibrahim Datuk Tan Malaka pada 2 Juni 1897 di Nagari Pandam Gadang, Gunuang Ameh, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Berasal dari keluarga Minangkabau yang memegang adat kuat, ia mendapatkan pendidikan dasar yang baik. Kecerdasannya membuatnya diterima di sekolah Belanda, dan akhirnya ia melanjutkan pendidikan ke Belanda pada 1913, belajar di Rijkskweekschool, Haarlem. Di sinilah pemikirannya tentang keadilan sosial dan kolonialisme mulai terbentuk.

Pengalaman hidup di negeri kolonial membuka mata Tan Malaka akan ketimpangan sosial dan penindasan yang terjadi di Hindia Belanda (Indonesia). Karyanya yang paling terkenal adalah Madilog” (Materialisme, Dialektika, dan Logika). Buku ini mengajarkan cara berpikir kritis dan ilmiah untuk membebaskan rakyat dari belenggu kebodohan dan penjajahan. Tan Malaka adalah salah satu tokoh yang pertama kali menggagas kemerdekaan Indonesia secara penuh. 

Meski berjasa besar, Tan Malaka sering kali disalah pahami, bahkan oleh sesama pejuang kemerdekaan. Ia dituduh sebagai ancaman oleh berbagai pihak, baik kolonial maupun republik. Pada 1949, Tan Malaka ditangkap oleh pasukan republik dan dihukum mati tanpa pengadilan di Kediri, Jawa Timur.

Pemikiran Tan Malaka tetap relevan hingga kini. Ia mengajarkan pentingnya keberanian untuk berpikir kritis dan bertindak melampaui batas-batas konvensional. Pada 1963, pemerintah Indonesia mengakui Tan Malaka sebagai Pahlawan Nasional.Sebagai seorang pemikir, perjuangannya menembus batas ruang dan waktu. Ide-idenya tentang keadilan sosial, pendidikan, dan kemerdekaan menjadi warisan berharga yang terus dikenang.

Tan Malaka adalah simbol keberanian, pemikiran progresif, dan pengabdian tanpa pamrih kepada bangsa. Namanya kini terpahat dalam sejarah sebagai salah satu tokoh revolusioner paling berpengaruh di Indonesia. 

Abdi Homestay

Abdi Homestay

Jika Anda mencari penginapan yang nyaman, ramah, dan dekat dengan alam, Abdi Homestay adalah pilihan tepat. Terletak di kawasan Lembah Harau, Homestay ini menawarkan suasana tenang dengan pemandangan indah tebing-tebing megah dan hijaunya alam sekitarnya. Abdi Homestay bukan sekadar tempat menginapan. Abdi Homestay menawarkan berbagai Fasilitas dan Layanan untuk menjaminkan kenyamanan para tamu, diantaranya: Kamar Nyaman, Restoran, Pemandangan Alam, Wi-fi Gratis.

Abdi Homestay terdiri dari beberapa cottage – cottage yang dapat kamu pilih. Setiap cottage sudah disediakan 2 kasur king size bed yang terletak di lantai satu dan lantai dua. Setiap kamar sudah lengkap fasilitasnya. Ada lemari pakaian, Meja Rias, Sajadah, dan toilet yang bersih. Uniknya ada beberapa cottage yang dilengkapi dengan shower yang masih terbuat dari bambu. Jadi sensasi alamnya sangat terasa.

Cottage yang terbesar di Abdi Homestay ini adalah Homestay Rumah Gadang. Homestay ini terdiri dari 2 lantai dengan total 5 kamar. Setiap kamar disediakan king size bed dan fasilitas yang sama lengkapnya. Homestay Rumah Gadang juga sudah tersedia ruang tamu, dapur, tempat bersantai seperti balkon yang ada di lantai satu dan lantai dua dengan view lembah yang memukau.

Abdi Homestay ini berlokasi strategis di tengah Lembah Harau, menjadikannya basis ideal untuk menikmati berbagai atraksi di sekitar. Dari sini, Anda dapat dengan mudah mengunjungi: Trekking di Hutan Tropis, dan Sport Panjat Tebing. Abdi Homestay ini juga menawarkan kesempatan untuk merasakan kehidupan lokal yang autentik. Para tamu dapat berinteraksi dengan pemilik dan penduduk setempat, belajar memasak Galamai, atau hanya menikmati suasana desa yang damai.

Abdi Homestay menawarkan harga yang terjangkau dengan berbagai pilihan kamar yang sesuai dengan kebutuhan Anda. Untuk memastikan ketersediaan, disarankan untuk memesan kamar beberapa hari sebelum kunjungan, terutama pada musim liburan. Dari pusat Kota Payakumbuh, Anda hanya membutuhkan sekitar 30 menit perjalanan menuju Lembah Harau. Jalan menuju lokasi cukup baik dan dapat diakses dengan kendaraan roda empat maupun roda dua. Abdi Homestay ini berlokasi di Lembah Harau, Kecamatan Harau, Kabupaten 50 Kota, Sumatera Barat.   

Pacu itiak

Pacu itiak

Pacu itiak salah satu tradisi unik yang di milik masyarakat Mianangkabau Payakumbuh, Tradisi berasal dari Lima Puluh Kota ,Payakumbuh, Provinsi Sumatera Barat. Tradisi ini unik di karenakan menggunkan itik  sebagai hewan pacuan . Sejak 2020, Pacu itik di akui secara reasmi oleh pemerintah Republik Indonesia sebgai salah satu Warisan Budaya Tak Benda Khas Indonesia dalam bidang seni pertunjukan yang berasal dari Sumatera Barat.

Tempat yang di gunakan untuk melakukan kegiatan ini adalah sawah. Untuk mengukuti kegiatan pacu itik ini ada ketentuan yang berlaku salah satunya usia itik 4 sampai 6 bulan serta sayapnya harus ke atas. Pacu itik ini di kelola secara profesional dan di bentuk Persatuan Olahraga Pacu Itik ( PORTI )

Visit Pacu Itiak

Don't miss this amazing opportunity to enjoy our tourist attraction services!