3D2N Kawasan Mandeh Bukittinggi

3D2N Kawasan Mandeh Bukittinggi

3D2N KAWASAN MANDEH BUKITTINGGI

RP. 2.191.500/PAX

MIN 10 PAX

 

DAY 01 : AIRPORT – KAWASAN MANDEH ( L,D )

 

  • Tiba di Bandara Internasional Minangkabau anda akan disambut oleh perwakilan kami, 
  • Menuju ke Pelabuhan Painan untuk menyeberang dengan kapal ke Kawasan Mandeh
  • Mengunjungi Pulau Setan 
  • Aktivitas di Pulau Setan yaitu :berenang, banana boat, dan permainan air lainnya
  • Makan siang di Pulau Setan dengan menu olahan laut 
  • Menuju Pulau Sironjong Ketek untuk Snorkeling & memberi makan ikan
  • Melakukan Cliff Jump bagi yang ingin menguji nyali
  • Setelah itu Menyusuri Hutan Mangrove untuk menuju ke Sungai Gemuruh ( Bersih -bersih dan mengganti pakaian)
  •  Kembali ke Pelabuhan
  • Menuju ke Kota Padang 
  • Menuju Outlet Rendang Uni adek untuk membeli oleh-oleh yang merupakan pusat oleh-oleh terbesar di Sumatera Barat.
  • Makan malam di RM Ikan Bakar cab Khatib 
  • Check in Hotel

 

DAY 02 : PADANG – BATUSANGKAR – BUKITTINGGI ( B, L, D )

 

  • Sarapan pagi di hotel & Check Out Hotel
  • City tour Kota Padang dengan mengunjungi Mesjid Raya Sumatera Barat, Kota Lama Padang, Perkampungan Cina, Jembatan Siti Nurbaya, & Pantai Padang.
  • Menuju Bukittinggi via Lembah Anai, berhenti sejenak di Air Terjun Lembah Anai yang diyakini bisa membuat awet muda.
  • Kemudian mengunjungi Minangkabau Village yang merupakan Pusat Dokumentasi Minangkabau. 
  • Mampir di Outlet Minang Kayo untuk melihat hasil kerajinan kulit khas Padang Panjang.
  • Makan siang di local restaurant (Sate Mak Syukur/ Pondok Baselo Baramas / Pak Datuk Resto)
  • Setelah itu menuju Desa Pariangan yang terkenal dengan Desa Terindah di Dunia
  • Kemudian menuju Istana Pagaruyung yang merupakan pusat pemerintahan Minangkabau pada masa dahulunya.
  • Menuju Bukittinggi Via Baso
  • Melihat pembuatan kerupuk Sanjai di Pusat oleh-oleh Ummi Aufa Hakim
  • Tiba di Bukittinggi, makan malam di local restaurant (Sederhana Restaurant/ CK Center Cafe/ Pauh Piaman/ Family Restaurant) 
  • Check in hotel

 

DAY 03 : BUKITTINGGI – AIRPORT ( B, L ) 

 

  •  Sarapan pagi dan check out hotel
  • City tour Bukittinggi dengan mengunjungi  : Taman Panorama baru, Rumah kelahiran Bung Hatta, Jam Gadang dan Pasar Atas
  • Makan siang di Local Restaurant ( Aia Badarun/ Lamun Ombak/ Pasia Piaman)
  • Menuju Bandara Internasional Minangkabau dan tour berakhir, sampai jumpa pada tour berikutnya

Harga Sudah Termasuk

  • Transportasi AC
  • Akomodasi
  • Makan Siang
  • Tiket masuk ke Objek wisata
  • Mineral water dan parkir.
  • Souvenir

Harga Tidak Termasuk

  • Tips untuk pemandu/sopir
  • Jus/ Minuman dilokal restaurant
  • Tiket pesawat/ Airport tax/ porter di Bandara
  • Tambahan biaya untuk Idul Fitri, natal, & tahun baru
Air Terjun Sungai Gemuruh

Air Terjun Sungai Gemuruh

Air Terjun Sungai Gemuruh merupakan salah satu permata tersembunyi yang terletak di kawasan wisata bahari Mandeh, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Keunikan air terjun ini bukan hanya terletak pada keindahannya, tetapi juga pada akses menuju lokasinya yang memberikan pengalaman petualangan tersendiri. Untuk mencapainya, pengunjung harus menempuh perjalanan menyusuri hutan mangrove selama kurang lebih 15 menit menggunakan perahu kecil dari arah Teluk Mandeh atau dermaga Carocok Tarusan. Sepanjang perjalanan, hamparan hutan bakau dan kejernihan air sungai menghadirkan pemandangan yang menyegarkan mata.

Setibanya di Air Terjun Sungai Gemuruh, pengunjung akan disambut suara gemericik air yang menenangkan. Aliran air yang jatuh dari bebatuan menciptakan kolam alami yang jernih dan menyegarkan, cocok untuk bermain air atau sekadar membilas tubuh setelah aktivitas laut seperti snorkeling di sekitar pulau-pulau di kawasan Mandeh. Suasananya begitu alami dan asri, dikelilingi pepohonan hijau dan udara yang sejuk. Air terjun ini juga menjadi tempat favorit bagi wisatawan yang ingin menikmati sensasi menyatu dengan alam tanpa hiruk pikuk keramaian.

Meski tidak terlalu tinggi, air terjun ini memiliki daya tarik tersendiri karena letaknya yang berada di tengah kawasan mangrove dan hanya dapat diakses melalui jalur air. Fasilitas yang tersedia di sekitar kawasan cukup memadai, termasuk toilet umum, area parkir kapal, serta petugas lokal yang siap memandu wisatawan. Tidak ada pungutan biaya masuk yang tinggi, biasanya hanya dikenakan retribusi ringan sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian kawasan. Para pengunjung juga diimbau untuk tidak menggunakan sabun atau sampo agar kejernihan dan kebersihan air tetap terjaga.

Air Terjun Sungai Gemuruh terletak di Kawasan Wisata Bahari Terpadu Mandeh, Kenagarian Sungai Nyalo Mudiak Aia, Kecamatan Koto XI Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat.

Masjid Samudera Ilahi

Masjid Samudera Ilahi

Masjid Samudera Ilahi merupakan salah satu ikon wisata religi yang memukau di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Berdiri megah di kawasan Pantai Carocok Painan, masjid ini tampak seolah mengapung di atas laut, memberikan kesan spiritual sekaligus pemandangan yang memanjakan mata. Keindahan arsitekturnya yang berpadu dengan latar belakang Samudera Hindia menjadikan masjid ini sebagai destinasi favorit bagi wisatawan lokal maupun luar daerah yang datang berkunjung.

Masjid ini tidak hanya difungsikan sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat kajian dan informasi kebudayaan Islam di Pesisir Selatan. Nama “Samudera Ilahi” sendiri mengandung filosofi spiritual yang mendalam, mengajak pengunjung untuk merenungi kebesaran Allah SWT melalui simbol-simbol alam dan arsitektur masjid. Dengan kapasitas sekitar 300 jamaah, masjid ini memiliki dua menara tinggi dan kubah berwarna keemasan yang menjadi daya tarik tersendiri. Bangunan masjid terhubung dengan daratan melalui sebuah jembatan, yang juga menjadi akses menuju Pulau Batu Kureta.

Suasana di sekitar masjid sangat mendukung untuk beribadah dengan khusyuk, diiringi semilir angin laut dan deburan ombak yang tenang. Ketika sore menjelang, banyak pengunjung yang datang untuk menikmati matahari terbenam sambil bersantai di sekitar masjid. Tidak ada pungutan biaya untuk masuk ke dalam masjid, namun pengunjung dikenai retribusi masuk kawasan Pantai Carocok sebesar Rp5.000. Pemerintah daerah juga terus melakukan perawatan dan pemeliharaan bangunan agar kenyamanan dan keindahannya tetap terjaga.

Masjid Samudera Ilahi berlokasi di Kawasan Pantai Carocok, Kelurahan Painan, Kecamatan IV Jurai, Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat.

Jembatan Akar

Jembatan Akar

Salah satu objek wisata yang harus kamu kunjungi saat berada di Sumatera Barat adalah Jembatan Akar Bayang Utara. Jembatan akar adalah jembatan yang dibentuk dengan menghubungkan akar-akar besar diantara dua pohon yang terpisah antara kampung satu dengan yang lainnya yang dipisahkan oleh sungai, jika dahulunya digunakan untuk menyeberang ke kampung sebelah, namun saat ini juga sudah menjadi salah satu objek wisata di Kabupaten Pesisir Selatan. Hingga hari ini masih dipertahankan oleh masyarakat dan pemerintah setempat dan tidak berniat untuk menggantinya dengan jembatan yang terbuat dari bahan yang lebih modern, seperti besi ataupun baja.

Jembatan itu memiliki sejarah. Terutama bagi penduduk kampung Bayang Utara. Jembatan Akar, penduduk setempat menyebutnya Titian Aka, memiliki tempat tersendiri di hati warga. Kabar dari warga setempat, jembatan itu dibangun oleh seorang ulama, yaitu Pakih Sokan.

Pada tahun 1890, Pakih Sokan berinisiatif membentangkan dua bilah bambu pada dua sisi Sungai Batang Bayang. Ia lalu mengikat bambu itu dengan akar dua pohon beringin yang tumbuh di dua sisi sungai. Lama lama akar dari dua pohon beringin itu bertemu. Lalu menyatu membentuk jembatan. Sejak dibuat pada 1890, jembatan itu baru bisa digunakan dengan aman pada 1916. Butuh waktu 26 tahun hingga jembatan itu kuat dilalui oleh warga. 

Sekarang jembatan ini memiliki panjang 25 meter dan lebar 1,5 meter, dengan ketinggian dari permukaan sungai sekitar 10 meter. Saat ini, kondisinya semakin lama semakin kuat karena semakin besarnya akar pohon beringin yang membentuknya. Sayangnya, Pakih Sokan tak sempat menikmati jembatan itu.

Terletak di kampung Pulut-pulut kecamatan Bayang Utara. Objek wisata ini berjarak 24 KM dari Painan dan 65 KM dari Padang. Kalau dari kota Padang, Menempuh perjalanan sekitar lebih kurang 2 jam.

Kini jembatan itu benar-benar kokoh. Ditopang oleh papan dan kabel baja, membuat warga dengan mudah melewatinya. Ribuan pejalan kaki melintasinya. Bahkan, jembatan ini menjadi destinasi wisata unggulan di Kabupaten Pesisir Selatan.

Puncak Mandeh

Puncak Mandeh

Salah satu destinasi wisata yang harus kamu kunjungi saat berada di Sumatera Barat adalah Puncak Mandeh. Puncak Mandeh merupakan perpaduan perbukitan yang alami dengan keindahan teluk yang dihiasi dengan gugusan pulau – pulau kecil yang berada di bagian tengah Teluk Carocok Tarusan. Kawasan Mandeh ini terkenal di Indonesia maupun di tingkat Internasional. Dari Puncak Mandeh, anda bisa melihat gugusan Pulau Traju, Pulau Setan Kecil, Sironjong besar dan kecil serta Pulau Cubadak dan gradasi warna air lautnya yang menambah keindahan Kawasan Mandeh ini.

 Di bagian Selatan Kawasan Mandeh tepatnya di Kampung Carocok ada sebuah tanjung meliuk bagaikan sungai, sehingga teluk terlihat bagaikan sebuah danau yang menakjubkan dengan riak – riak kecil. Sedang di Kawasan Utara Mandeh terdapat beberapa pulau yang melingkar, yaitu Pulau Bintangor, Pulau Pagang, Pulau Ular dan Pulau Marak yang berdampingan dengan Pulau Sikuai 

Gerbang masuk Kawasan Mandeh dapat dicapai melalui laut dan jalan darat. Bila naik kapal atau boat bisa dari Pelabuhan Bungus, Gaung, Teluk Bayur atau dari Pelabuhan Muara Padang serta Teluk Tarusan. Sedangkan melalui jalan darat, terdapat tiga alternatif dari tiga ruas jalan yang berbeda, alternative pertama dari Pasar Tarusan melalui simpang carocok dan alternatif kedua dari Bungus terus ke Sungai Pinang dan Sungai Nyalo. Ruas jalan terbaru ialah melewati Carocok lalu menyusuri bibir pantai dan perbukitan yang landai sepanjang 12,5 km.

Puncak Mandeh beralamat di Mandeh, Koto XI Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Terletak kurang lebih 56 km dari Kota Padang dan dapat ditempuh menggunakan mobil lebih kurang 1-2  jam perjalanan. Kawasan wisata Mandeh sendiri mempunyai area seluas 18.000 Ha dan meliputi 7 desa dari 3 nagari yang penduduknya bekerja sebagai nelayan, beternak dan bertani.

Kabupaten Pesisir Selatan

Pesisir Selatan merupakan daerah sepanjang pesisir pantai Sumatera Barat yang terdiri dari rawa rawa dataran rendah dan perbukitan yang sudah berpenghuni. Pesisir Selatan merupakan sebuah kabupaten di Sumatera Barat. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 5.749,89 km2 dan populasi pada tahun 2021 sebanyak 515.549 jiwa. Ibu kota Pesisir Selatan berada di Kecamatan IV, tepatnya di Painan. 

Kabupaten Pesisir Selatan terletak di pinggir pantai, dengan garis pantai sepanjang 218 kilometer Topografinya terdiri dari dataran gunung dan perbukitan yang merupakan perpanjang gugusan Bukit Barisan. Berdasarkan Penggunaan lahan, 45,29 persen wilayah terdiri dari hutan, termasuk kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat, Cagar Alam Koto XI Tarusan dan rawa gambut. 

Pesisir Selatan memiliki panorama alam yang cukup cantik dan mempesona. Contohnya Kawasan Mandeh, sekarang kawasan wisata masuk kedalam Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Nasional ( RIPPNAS ) mewakili kawasan barat Indonesia. Kawasan wisata potensial lainnya adalah Jembatan Akar, Water Pall Bayang Sani, Carocok Beach Cingkuak (Cengco ), Peninggalan Kerajaan Inderapura dan Rumah Gadang Mandeh rubiah Lunang. 

 

Makam Belanda Sawahlunto

Tersembunyi di perbukitan Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, terdapat sebuah situs bersejarah yang menyimpan banyak kisah dari masa kolonial Hindia Belanda: Kompleks Makam Belanda atau dikenal juga sebagai Kerkhof Sawahlunto. Makam ini merupakan salah satu peninggalan penting dari masa kejayaan tambang batu bara Ombilin yang dulu dikelola oleh pemerintah kolonial. Di sinilah dimakamkan para insinyur, pengawas tambang, dan pekerja dari berbagai latar belakang yang meninggal selama bertugas di wilayah pertambangan ini. Suasana kompleks makam yang sunyi dan rindang menciptakan nuansa hening yang membawa pengunjung menyelami lorong waktu ke masa lebih dari seabad lalu.

Kompleks makam ini pertama kali digunakan sekitar tahun 1902 dan terus berkembang hingga 1917. Terdapat total 94 makam di area ini, sebagian besar milik orang-orang Belanda, namun ada juga makam warga Jepang dan satu makam dengan tulisan Tionghoa. Bentuk dan arsitektur makam mencerminkan gaya Eropa klasik dengan struktur beton, nisan besar, ornamen khas, serta beberapa makam yang memiliki cungkup dan patung. Meski beberapa bagian sempat tertutup semak belukar, makam-makam ini telah dipugar secara bertahap oleh pemerintah dan kini menjadi salah satu destinasi wisata sejarah unggulan di kota tambang tersebut.

Keberadaan makam ini tidak hanya penting sebagai situs warisan budaya, tetapi juga menjadi pengingat akan sejarah panjang interaksi antara Indonesia dan bangsa-bangsa asing yang pernah hadir di tanah ini. Banyak wisatawan, terutama dari Belanda, datang ke Sawahlunto untuk menelusuri jejak nenek moyang mereka yang pernah tinggal dan bekerja di kota tambang ini. Selain itu, makam ini juga menarik bagi peneliti, fotografer, dan pengunjung yang tertarik pada arsitektur makam kolonial dan kisah-kisah yang terkubur bersama para penghuninya.

Bagi siapa saja yang ingin mengunjungi, Kompleks Makam Belanda terletak di Kelurahan Lubang Panjang, Kecamatan Barangin, Kota Sawahlunto, Provinsi Sumatera Barat, tidak jauh dari MTSN 1 Sawahlunto dan Kantor Wali Kota. Lokasi ini bisa dijangkau dengan kendaraan roda dua atau mobil kecil dan terbuka untuk umum tanpa biaya masuk.

Padang Savana Kolok

Padang Savana Kolok

Padang Savana Kolok merupakan destinasi alam yang menyimpan pesona tersembunyi di Kota Sawahlunto, Sumatera Barat. Terletak di kawasan Desa Kolok, tempat ini menyajikan hamparan padang ilalang yang luas dengan latar belakang perbukitan yang bergelombang. Keindahannya menghadirkan suasana layaknya savana di daerah Sumba atau Afrika, namun tetap membawa nuansa Minangkabau yang khas. Angin sejuk yang berembus perlahan dan kesunyian alam menjadikan Padang Savana Kolok tempat yang sempurna untuk melepas penat dari hiruk-pikuk kota.

Warna padang ilalang berubah mengikuti musim, hijau cerah di musim hujan dan kuning keemasan saat musim kemarau. Perubahan warna ini menciptakan suasana yang berbeda-beda, menjadikannya spot favorit bagi para pencinta fotografi dan pemburu konten visual. Tidak hanya cocok untuk foto-foto, Padang Savana Kolok juga sangat ideal sebagai tempat piknik, menikmati pemandangan, atau sekadar bersantai di atas tikar sambil menikmati bekal yang dibawa dari rumah.

Karena lokasinya masih alami dan minim sentuhan komersial, fasilitas umum seperti warung atau toilet belum tersedia. Oleh karena itu, pengunjung disarankan membawa bekal dan keperluan pribadi secukupnya. Akses jalan menuju lokasi juga belum banyak dipetakan secara digital, sehingga penting untuk bertanya langsung pada warga sekitar Kolok Nantuo atau Talawi agar tidak tersesat di jalur menuju bukit.

Meski belum banyak dikenal wisatawan luar, Padang Savana Kolok menjadi bukti bahwa keindahan Sawahlunto tidak hanya terletak pada kota tuanya yang bersejarah, tetapi juga pada bentang alamnya yang luar biasa. Tempat ini sangat cocok bagi pecinta alam, penyuka hiking ringan, maupun mereka yang sekadar ingin “healing” di alam terbuka dengan suasana yang tenang dan damai.

Padang Savana Kolok  Jorong Kolok Nan Tuo, Kelurahan Kolok Mudiak, Kecamatan Barangin, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat.

Lubang Kalam Sawahlunto

Lubang Kalam Sawahlunto

Lubang Kalam adalah salah satu situs bersejarah yang menjadi saksi bisu masa kejayaan tambang batu bara di Sawahlunto, Sumatera Barat. Terowongan ini dibangun pada masa kolonial Belanda antara tahun 1892 hingga 1894 dan dikenal sebagai terowongan kereta api terpanjang di Sumatera, dengan panjang mencapai sekitar 828 meter. Lubang Kalam merupakan bagian dari jalur pengangkutan batu bara dari tambang di Sawahlunto menuju Pelabuhan Teluk Bayur di Padang.

Pembangunan terowongan ini tidak lepas dari kisah kelam sistem kerja paksa yang diberlakukan oleh pemerintah Hindia Belanda. Ribuan pekerja paksa atau yang dikenal sebagai “orang rantai” harus bekerja dalam kondisi berat dan tidak manusiawi untuk menggali dan membangun jalur terowongan yang menembus kaki Bukit Barisan ini. Hingga kini, suasana dalam terowongan yang gelap, lembap, dan sunyi masih menyimpan nuansa mistis yang kuat, seolah menghidupkan kembali cerita-cerita masa lalu tersebut.

Di sepanjang Lubang Kalam terdapat 33 bilik kecil berbentuk oval yang dulunya digunakan sebagai tempat berlindung bagi para pekerja maupun pejalan kaki saat kereta melintas. Fungsi bilik-bilik ini menunjukkan bahwa terowongan ini tidak hanya digunakan untuk jalur kereta barang, tetapi juga melibatkan aktivitas manusia di dalamnya. Struktur asli dari terowongan masih terlihat jelas, termasuk batu bata kuno dan rel-rel kereta tua yang kini sebagian ditumbuhi semak dan ditinggali kelelawar.

Saat ini, Lubang Kalam sudah tidak lagi difungsikan sebagai jalur transportasi, namun telah ditetapkan sebagai cagar budaya dan menjadi destinasi wisata sejarah yang penting di Sawahlunto. Kawasan ini menarik minat wisatawan, peneliti, hingga fotografer yang ingin menyusuri lorong waktu dan merasakan langsung atmosfer masa lalu yang masih kental terasa. Sebagai bagian dari kawasan Warisan Dunia UNESCO Tambang Batu Bara Ombilin, Lubang Kalam kini menjadi simbol penting dari sejarah perkeretaapian dan perjuangan buruh tambang di Indonesia.

Mengunjungi Lubang Kalam bukan hanya sekadar melihat terowongan tua, tapi juga memahami bagaimana sejarah membentuk wajah kota dan kehidupan masyarakatnya. Tempat ini cocok dijadikan lokasi edukasi sejarah, eksplorasi budaya, dan refleksi atas masa lalu yang penuh dinamika.

Talempong Batuang Silungkang

Talempong Batuang Silungkang

Talempong Batuang Silungkang adalah salah satu warisan budaya khas Minangkabau yang berasal dari Dusun Sungai Cocang, Desa Silungkang Oso, Kota Sawahlunto. Tidak seperti talempong pada umumnya yang terbuat dari logam, talempong ini dibuat dari bahan bambu (dalam bahasa Minang disebut batuang). Inovasi ini menunjukkan kekayaan budaya masyarakat Silungkang dalam menciptakan alat musik tradisional yang unik, ramah lingkungan, dan tetap bernilai seni tinggi.

Bentuk Talempong Batuang menyerupai batang bambu berukuran sekitar 60 sentimeter dengan sayatan-sayatan pada permukaannya yang berfungsi sebagai sumber nada. Cara memainkannya adalah dengan memukul bagian tersebut menggunakan potongan bambu kecil seperti stik, menghasilkan nada-nada lembut dan alami. Alat musik ini dulunya digunakan dalam kegiatan sehari-hari seperti menemani petani saat beristirahat, perayaan panen, atau sekadar hiburan di tengah masyarakat pedesaan.

Kesenian Talempong Batuang diwariskan secara turun-temurun dan kini hanya dikuasai oleh satu keluarga, yakni keluarga besar Umar Malin Parmato. Mereka adalah penjaga terakhir tradisi ini, sekaligus pelaku seni yang masih aktif memperkenalkannya ke berbagai panggung budaya, baik lokal maupun internasional. Keunikan dan langkanya Talempong Batuang ini membuatnya diakui secara resmi sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi pada 31 Agustus 2023.

Upaya pelestarian Talempong Batuang terus dilakukan melalui festival budaya, workshop pembuatan dan pelatihan, hingga pengenalan ke sekolah-sekolah agar generasi muda mengenal dan mencintai budaya lokal. Talempong Batuang tidak hanya sekadar alat musik, tapi juga simbol ketekunan, kreativitas, dan identitas masyarakat Silungkang yang patut dihargai dan dijaga bersama.