Masjid Bayur

Masjid Bayur

Masjid Raya Bayur adalah salah satu masjid bersejarah yang terletak di Nagari Bayur, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Berdiri megah di tepi Danau Maninjau, masjid ini menawarkan pemandangan alam yang memukau, menjadikannya destinasi wisata religi yang menarik bagi wisatawan lokal maupun mancanegara. Lokasinya yang strategis, dekat dengan jalan raya penghubung Lubuk Basung dan Bukittinggi, memudahkan akses bagi para pengunjung. 

Dibangun pada awal abad ke-20, Masjid Raya Bayur merupakan hasil prakarsa Syekh Muhammad Salim al-Khalidi Bayur bersama tokoh masyarakat setempat. Peletakan batu pertama dilakukan pada 19 Dzulhijjah 1322 H (sekitar tahun 1905). Seiring berjalannya waktu, masjid ini mengalami renovasi pada awal tahun 2000 untuk memperbaiki kondisi bangunan dan lingkungannya. ​

Keunikan arsitektur Masjid Raya Bayur terletak pada perpaduan gaya tradisional Minangkabau dan pengaruh Thailand. Atap masjid berbentuk gonjong khas rumah gadang dengan tiga tingkatan, sementara menara-menara kecil di keempat sudutnya menyerupai pagoda. Interior masjid dihiasi ukiran kayu berwarna gelap dan pilar-pilar yang dicat dengan warna lembut, menciptakan suasana yang khusyuk bagi para jamaah. ​

Selain fungsi utamanya sebagai tempat ibadah, Masjid Raya Bayur juga dilengkapi dengan fasilitas pendukung seperti tempat wudhu, area parkir, dan taman yang asri. Di bagian belakang masjid terdapat kolam ikan yang menambah keindahan dan ketenangan suasana. Kombinasi antara nilai sejarah, keindahan arsitektur, dan panorama alam sekitar menjadikan Masjid Raya Bayur sebagai simbol harmonisasi budaya dan religi di Sumatera Barat.

Puncak Lawang

Puncak Lawang

Puncak Lawang adalah salah satu objek wisata alam yang terletak di Nagari Lawang, kec. Matur, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Puncak Lawang menampilkan pemandangan Danau Maninjau dari ketinggian, rindangnya pohon pinus dan udara sejuk. Puncak Lawang juga diberi nama “ Negeri Di Atas Awan ” yang indah dan berlatar belakang Danau Maninjau.

Pada saat ini, Puncak Lawang menjadi salah satu destinasi wisata di Sumatera Barat. Puncak Lawang menjadi arena Kejuaraan Olahraga Paralayang Kelas Internasional karena merupakan salah satu spot terbaik di Asia Tenggara.

Pengunjung yang datang dari barat seperti Lubuk Basung atau Danau Maninjau akan melewati perjalanan mendaki bukit dengan 44 belokan yang terkenal dengan kelok 44. Sedangkan pengunjung yang datang dari Bukittinggi atau Padang Panjang akan mencapai kawasan Puncak Lawang akan melewati Desa Matur dengan perjalanan yang cukup menegangkan. ‘.

Puncak Lawang sangat cocok dijadikan tempat untuk bersantai karena berada di ketinggian dan menikmati indah nya Danau Maninjau. Selain untuk bersantai ada beberapa fasilitas yang disediakan seperti musholla, tempat bermain dan berfoto.

Destinasi wisata ini di buka setiap hari mulai dari pukul 08.00 – 18.00 WIB. Tiket masuk Puncak Lawang masih cukup terjangkau untuk hari Senin – Sabtu Rp. 20.000/orang dan hari Minggu Rp. 25.000/orang dengan harga segitu pengunjung sudah bisa menikmati pemandangan indah yang ada di Puncak Lawang

Jembatan Siti Nurbaya

Jembatan Siti Nurbaya

Jembatan Siti Nurbaya adalah salah satu ikon wisata Kota Padang, Sumatera Barat. Jembatan ini memiliki sejarah nilai dan budaya yang erat kaitannya dengan legenda cinta tragis Siti Nurbaya, tokoh dalam novel klasik karya Marah Rusli. Selain sebagai penghubung wilayah, jembatan ini juga menjadi destinasi wisata yang menawarkan pemandangan yang indah, terutama saat senja dan malam hari.

Jembatan Siti Nurbaya dibagun untuk menghubungkan pusat kota Padang dengan daerah seberang Padang yang terpisahkan oleh Sungai Batang Arau. Nama jembatan ini diambil dari tokoh Siti Nurbaya, seorang gadis dalam novel yang terpaksa menikah dengan Datuk Maringgih dalam membayar hutang ayahnya. Padahal ia mencintai Samsul Bahri. Kisah tragis ini membuat jembatan ini semakin terkenal dan dikaitkan dengan kisah cinta yang memilukan.

Jembatan ini memiliki panjang sekitar 156 meter dan berdiri kokoh di atas Sungai Batang Arau. Pada malam hari, jembatan ini diterangi oleh lampu-lampu yang berwarna warni yang menciptakan suasana romantis. Dari atas jembatan, pengunjung dapat menikmati pemandangan kapal-kapal kecil yang berlabuh di sungai serta bangunan tua peninggalan kolonial Belanda yang menambah kesan klasik.

Jembatan ini dapat diakses dengan mudah dari pusat Kota Padang. Dari Bandara Internasional Minangkabau, perjalanan menuju jembatan ini memakan waktu sekitar 45 menit dengan kendaraan. Jembatan Siti Nurbaya bukan hanya sekedar jembatan penghubung, tetapi juga sebagai simbol budaya dan sejarah yang kaya akan cerita. Dengan pemandangan yang indah, suasana yang romantis, serta kuliner khas yang menggugah selera, jembatan ini menjadi destinasi wisata yang wajib di kunjungi saat berada di kota Padang.

Jembatan Siti Nurbaya berlokasi di Jl Kp Batu, Batang Arau, Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang, Sumatera Barat, Indonesia. 

Atraksi Serak Gulo

Atraksi Serak Gulo

Serak Gulo adalah salah satu atraksi yang ada di Kota Padang. Tradisi ini merupakan wujud rasa syukur yang atas rezeki diberikan sepanjang tahun. Tradisi Serak Gulo ini berawal dari muslim keturunan India yang masuk ke Pesisir Barat tepatnya di Kota Padang pada 200 tahun yang lalu.

Selain untuk mewujudkan rasa syukur, Tradisi Serak Gulo juga untuk memperingati wafatnya ulama di Nagore, India, yaitu Shaul Hamid. Ali Khan Abu Bakar selaku Ketua Himpunan Keluarga Muhammadan mengatakan gula yang dibagi juga dibacakan doa, dzikir, dan shalawat.

Tradisi ini dilakukan oleh muslim keturunan India di beberapa wilayah dunia salah satunya di Singapura dan Nagapattinam.

Pada 16 Februari 2018 tradisi Serak Gulo ini di sambut meriah oleh masyarakat Kota Padang. Panitia menaburkan enam ton gula yang sudah di bungkus kain perca.

Pada tahun sebelumnya gula yang dibagikan hanya 4 ton. Gula yang dibagi dikumpulkan dari berbagai daerah Indonesia seperti Medan, Bengkulu, Jambi, dan riau.

Dinas Pariwisata Kota Padang Mendukung tradisi ini sebagai agenda pariwisata tahunan. Pemerintah Kota Padang memberikan bantuan finansial untuk penyelenggaraan Tradisi Serak Gulo semenjak tahun 2018. Pemkot juga memberikan bantuan tenaga kesehatan dan pengamanan untuk tradisi ini.

Visit Atraksi Serak Gulo

Don't miss this amazing opportunity to enjoy our tourist Atrtraction services!

Masjid Raya Sumatera Barat

Masjid Raya Sumatera Barat

Masjid Raya Sumatera Barat adalah salah satu landmark ikonik di Kota Padang. Dengan desain arsitektur yang unik dan sarat makna budaya, masjid ini tidak hanya menjadi tempat ibadah tetapi juga destinasi wisata religi yang menarik perhatian banyak orang. Masjid ini juga dinamai dengan Masjid Syech Ahmad Khatib Al Minangkabawi. Nama ini merupakan pemberian dari Pemerintah Arab Saudi karena ulama asal Minangkabau yang bernama Syech Ahmad Khatib Al Minangkabawi pernah menjadi imam di Masjid Nabawi. 

Berbeda dengan masjid pada umumnya, Masjid Raya Sumatera Barat memiliki bentuk atap yang menyerupai rumah gadang, rumah adat khas Minangkabau. Struktur ini mencerminkan kearifan lokal serta filosofi budaya masyarakat Minangkabau yang berlandaskan adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah.

Masjid ini juga memiliki desain tanpa kubah, namun tetap tampak megah dengan lengkungan-lengkungan khas dan ornamen kaligrafi indah yang menghiasi interiornya. Selain itu, masjid ini dirancang tahan gempa, mengingat Sumatera Barat merupakan daerah rawan bencana. Selain itu masjid ini merupakan salah satu dari tujuh masjid dengan arsitektur terbaik dunia. 

Masjid ini dapat menampung sekitar 20.000 jamaah, menjadikannya salah satu masjid terbesar di Indonesia. Area di sekitarnya juga dilengkapi dengan taman yang asri, area parkir luas, serta fasilitas pendukung lainnya untuk kenyamanan pengunjung.

Masjid ini terletak di pusat kota Padang, sehingga mudah dijangkau baik dengan kendaraan pribadi maupun transportasi umum. Nah selain sebagai tempat ibadah, masjid ini menjadi pusat keagamaan dan sosial masyarakat. Berbagai kajian islam, kegiatan amal, serta acara keagamaan sering diadakan di sini, memperkuat peran masjid sebagai pusat pembinaan umat.

Masjid ini bukan hanya sebagai tempat ibadah tetapi juga sebagai simbol kebanggan masyarakat Minangkabau. Dengan arsitektur yang megah, nilai budaya yang kuat, serta peran sosial yang besar, masjid ini menjadi destinasi yang layak dikunjungi baik oleh wisatawan lokal maupun mancanegara.  

Masjid Raya Padang berlokasi di Flamboyan Baru, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang, Sumatera Barat, Indonesia

 

2D1N PAYAKUMBUH

2D1N PAYAKUMBUH 

MIN 10 PAX IDR

1.824.000/ ORANG

BPBD Sumbar Pastikan Video Longsor Kelok Sembilan Hoaks

HARI 01. Airport – Payakumbuh (L,D)
Selamat Datang di Bandara Internasional Minangkabau.
Setelah pengurusan bagasi langsung menuju kendaraan yang telah disediakan oleh Perwakilan kami.

Menuju Padang. 

Tiba di Padang city tour dengan mengunjungi : Mesjid Raya Sumatera Barat, Perkampungan Cina, Kota Lama Padang, Jembatan Siti Nurbaya, Pantai Padang.

Kemudian menuju Lamun Ombak Restaurant untuk Makan siang.
Selanjutnya menuju Payakumbuh via Lembah Anai yang terkenal dengan Air Terjun dan kesejukan serta keindahan alamnya.
Mengunjungi Minangkabau Village, yang merupakan pusat dokumentasi Minangkabau
Setelah itu menuju Bukittinggi.
Dalam perjalanan singgah di Pandai Sikek yang terkenal dengan Tenunan Songket dan Ukiran tradisional Minangkabau.
Meneruskan perjalanan menuju Payakumbuh,
Makan malam dilokal restaurant dan menuju Homestay untuk istirahat

HARI 02. Payakumbuh – Airport (B,L)

Setelah sarapan check out hotel

City Tour Payakumbuh tour diawali menuju Lembah Harau dan Kelok 9 

Selanjutnya menuju Bukittinggi via baso 

Tiba di Bukittinggi city tour dengan mengunjungi Panorama Ngarai Sianok, Lobang Jepang, Pasar Atas, dan Jam Gadang.

Makan siang di Lapau Kapau/ RM Sederhana.

Setelah itu menuju Bandara Internasional Minangkabau (BIM) untuk penerbangan berikutnya. Terima kasih atas kepecayaan anda kepada kami dan sampai berjumpa lagi di tour berikutnya. Tour Ending


Harga wisata di Payakumbuh

Harga termasuk :
Transportasi AC
Makan sesuai program tour
Tiket masuk ke objek wisata
Akomodasi sesuai program
Driver Guide (FIT) & Tour Guide (GIT)
Mineral water & parkir
10 pax dewasa + 1 FOC

Harga tidak termasuk :
Keperluan pribadi seperti : bill telepon, laundry, minibar, dll.
Tips untuk Pemandu Wisata dan Sopir
Jus/ Minuman dilokal restaurant
Tiket Pesawat/Airport Tax/ Porter di Bandara
Tambahan biaya untuk hari libur (Long weekend, natal, lebaran, tahun baru)

Panorama Padang Mangateh

Panorama Padang Mangateh

PANORAMA PADANG MANGATEH

Padang Mangateh adalah sebuah daerah peternakan yang terletak di Mungo, Luak, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Jaraknya dari Kota Padang lebih kurang 136 km dan dari Kota Payakumbuh sekitar 12 km. Daerah ini menjadi terkenal karena pemandangan padang rumput nya mirip dengan peternakan padang rumput di Selandia Baru. Peternakan ini secara resmi dikelola oleh Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak ( BPTU – HPT ) Padang Mangatas di bawah Kementerian Pertanian Republik Indonesia.

BPTU Padang Mangatas pertama kali didirikan oleh Pemerintahan Hindia Belanda pada tahun 1916. Ternak yang di kembangkan adalah kuda. Pada tahun 1935 didatangkan sapi Zebu dari Benggala, India untuk dikembang biakan. Pada zaman revolusi Kemerdekaan ( 1945 – 1949 ) kegiatan terhenti. Pada tahun 1950 oleh Wakil Presiden Dr. Moh. Hatta dibuka kembali pada tahun 1951 – 1953 dijadikan sebagai Stasiun Peternakan Pemerintahan dan diberi nama Induk Taman Ternak ( ITT ) Padang Mengatas.

Kondisi geografis Padang Mangateh yang terletak di pinggang Gunung Sago, Menjadikan rumput di daerah ini tumbuh dengan subur. Sapi pun bisa dengan leluasa bergerak dan makan dengan sepuasnya. Udara yang segar, panorama alamnya yang begitu mempesona, dan hamparan padang rumput hijaunya yang begitu luas, menjadi ciri khas Padang Mangateh.

Tempat wisata ini tidak memungut biaya apapun. Sebelum berkunjung kamu harus mendapat izin terlebih dahulu sebelum masuk. jam berkunjung, biasanya diperbolehkan hanya diperbolehkan saat jam hari kerja. Sehingga kamu harus mendaftar secara online.

Berikut adalah syarat untuk berkunjung :

  1. Mengisi link berikut :  https://bptupadangmengatas.com/kunjungan. Selain itu, bisa juga datang dan izin ke lokasi 
  2. Pendaftaran dilakukan sepekan sebelum berkunjung 
  3. Wajib membawa tanda bukti penerimaan ( print out ) dari BPTUHPT yang menyatakan bahwa telah diizinkan 
  4. Membawa surat pengantar dari instansi atau lembaga kunjungan bersifat kedinasan atau di bawah arahan dinas, lembaga, atau instansi dengan kepentingan edukasi peternakan.
  5. kunjungan pribadi tetapi dibatasi, seperti dilarang masuk ke area pagar sapi dan dilarang menggunakan kendaraan pribadi untuk mengelilingi wilayah tersebut 
  6. Kunjungan dapat dilaksanakan setelah adanya informasi resmi dari BPTUHPT Padang Mengatas yang akan dikirim  melalui email yang telah didaftarkan.
  7.  Pengunjung yang tidak membawa tanda bukti penerimaaan dari BPTUHPT Padang Mengatas dilarang masuk. 

berkunjung ke tempat wisata ini tidak membutuhkan waktu lama, karena jarak dari Jalan Raya yang menghubungkan Payakumbuh – Lintau sekitar 2 km dengan menggunakan kendaraan pribadi.

Tempat wisata ini belum memiliki fasilitas cafe atau restaurant. Oleh karena itu disarankan kepada wisatawan membawa bekal makanan. Jadi, disarankan bagi yang ingin berkunjung ke tempat ini untuk membawa bekal makanan dan minuman dari rumah.

Aktivitas yang bisa dilakukan berupa foto dan video karena pemandangan sangat indah sehingga sayang sekali jika tidak mengambil momen momen saat kita berada disana. Hampir seluruh pengunjung yang datang ke tempat ini pasti berminat untuk mengambil foto. Selain itu, kegiatan yang bisa dilakukan membuat video membuat video. Video bisa di mulai saat perjalanan awal hingga melakukan keseruan lainnya.

Visit Panorama Padang Mangateh

Don't miss this amazing opportunity to enjoy our tourist attraction services!

Taman Panorama Baru

Taman Panorama Baru

Panorama Baru merupakan objek wisata yang terletak pada ketinggian 950 meter diatas permukaan laut. Hal inilah membuat objek wisata ini sering dikunjungi wisatawan karena udara yang sejuk dan masih asri. Objek wisata ini sudah terkenal oleh wisatawan domestik maupun internasional. Wisatawan domestik terutama dari Pekanbaru dan wisatawan internasional seperti Malaysia dan Singapore. 

View Ngarai Sianok yang luas dan Gunung Singgalang yang agung dan menjulang tinggi menambah daya tarik objek wisata ini. Panorama Baru merupakan objek wisata yang terbilang masih baru yaitu dibuka pada akhir tahun 2023 kemarin. Baru dibuka, objek wisata ini sudah langsung viral dan selalu ramai oleh pengunjung, karena disini banyak spot foto instagramable alias aesthetic dari segala sudut.

Saat pagi hari Panorama Baru sangat eksotik dengan kabut pagi bercampur dengan sinar matahari pagi. Membuat Pengunjung seperti berada di negeri diatas awan. Banyak wisatawan yang mencari momen tersebut. Objek wisata ini sudah ramai bahkan saat setelah subuh. Selain itu Panorama Baru juga memukau saat sore hari karena momen matahari tenggelam yang eksotik. 

Untuk biaya masuknya sangat terjangkau yaitu hanya Rp 5.000,- saja. Untuk biaya parkir pun juga terjangkau yaitu hanya Rp 2.000,- untuk kendaraan roda dua, dan Rp 5.000,- untuk kendaraan roda empat. Jika anda lapar, tidak usah khawatir karena disini banyak stand stand yang menjual makanan, mulai dari makanan khas tradisional minang, dan makanan lainnya. Fasilitas Objek Wisata ini sudah lengkap dimana terdapat toilet yang bersih, mushola, dan area playground anak. Selain itu juga terdapat atraksi wisata yaitu pertunjukan saluang yang menambah rasa tradisional Minangkabau. 

Panorama Baru berlokasi di Jl Pabidikan, Kec Mandiangin Koto Selayan, Kota Bukittinggi, Sumatera barat.

KELOK 9

KELOK 9

Kelok 9 adalah salah satu ikon wisata dan infrastruktur Sumatera Barat yang terkenal akan keunikan arsitektur jalan serta panorama alamnya. Terletak di Kabupaten Limapuluh Kota, jalur ini menjadi penghubung utama antara Sumatera Barat dan Riau, sekaligus menjadi daya tarik wisata yang memukau.

Nama “Kelok 9” berasal dari sembilan tikungan tajam yang menjadi ciri khas jalan ini. Kelok 9 dirancang untuk menembus kawasan perbukitan yang terjal. Dalam perkembangannya, pemerintah Indonesia melakukan revitalisasi besar-besaran pada tahun 2003 hingga 2013 untuk meningkatkan kapasitas dan keamanan jalan. Salah satu hasil revitalisasi tersebut adalah pembangunan jembatan megah sepanjang 2,5 kilometer yang melintasi lembah dengan desain yang harmonis dengan alam sekitarnya. 

Kelok 9 dikelilingi oleh hutan tropis yang lebat dan lembah yang dalam, Kelok 9 juga menawarkan pemandangan yang memanjakan mata. Kabut tipis yang sering menyelimuti kawasan ini menambah nuansa tenang dan menenangkan. Wisatawan yang melintasi jalur ini sering kali berhenti di area tertentu untuk menikmati keindahan alam dan mengambil foto dengan latar belakang jembatan yang megah. 

Kelok 9 adalah bukti nyata bahwa perpaduan antara keindahan alam dan keunggulan infrastruktur dapat menciptakan daya tarik wisata yang luar biasa. Kelok 9 berlokasi di Harau, Kecamatan Harau, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat

SERIBU RUMAH GADANG

SERIBU RUMAH GADANG

Seribu Rumah Gadang

Kekayaan Budaya Minangkabau yang Masih Terjaga

 

                                         

Kawasan Seribu Rumah Gadang merupakan objek wisata yang merepresentasikan kampung masyarakat Minangkabau pada masa lampau, dengan ratusan Rumah Gadang Berjejer di sepanjang kawasan ini. Kawasan Seribu Rumah Gadang memiliki nama lengkap Kawasan Seribu Rumah Gadang Alam Surambi Sungai Pagu. Dahulu wilayah ini merupakan kawasan pemerintahan Kerajaan Sungai Pagu. Kawasan Seribu Rumah Gadang masih terjaga dengan baik. Lokasinya yang aesthetic membuat kawasan ini dijadikan lokasi syuting film beberapa film layar lebar.

Terdapat 174 Rumah Gadang dengan berbagai bentuk di Kawasan Seribu Rumah Gadang. Rumah Gadang di kawasan ini masih dihuni oleh penduduk setempat yang terdiri dari suku atau marga yang berbeda, seperti Malayu, Durian, Kampai, Panai, Tigo Lareh, Koto Kaciak dan Sikumbang. Keberagaman suku melambangkan bahwa Kerajaan Sungai Pagu telah menerapkan toleransi sejak masa dahulu. 

Saat ini Kawasan Seribu  Rumah Gadang dijadikan Cagar Budaya dan Pariwisata Kabupaten Solok Selatan. Kawasan Seribu Rumah Gadang dijadikan destinasi wisata budaya. Beberapa Rumah Gadang yang ada di kawasan ini dijadikan sebagai homestay untuk tempat wisatawan menginap. Tidak hanya sekedar menginap, wisatawan juga dapat mengikuti kegiatan sehari-hari pemilik rumah, termasuk belajar memasak kuliner khas seperti Pangek Pisang, dan mengikuti acara kebudayaan. Untuk menikmati keindahan Kawasan Seribu Rumah Gadang wisatawan cukup membayar Rp. 10.000 saja. Objek Wisata ini juga sudah menyediakan fasilitas untuk menunjang wisatawan. Diantaranya: Gazebo, area lahan parkir, toilet, dan toko souvenir.

Kawasan Seribu Rumah Gadang berlokasi di Nagari Koto Baru, Kecamatan Sungai Pagu, Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat. Objek wisata ini dapat ditempuh selama 3,5 jam dari Kota Padang.