MUSEUM TRIDAYA EKA DHARMA

MUSEUM TRIDAYA EKA DHARMA

Wisata Sejarah
Museum ini dahulunya adalah rumah peristirahatan Gubernur Sumatra. Pendirian museum ini digagas oleh Brigjen Widodo, salah seorang pimpinan TNI wilayah Sumatra Tengah. Gagasan tersebut kemudian dilanjutkan oleh Brigjen Soemantoro dan diresmika menjadi museum pada tanggal 16 Agustus 1973.

Museum ini diberi nama Museum Perjuangan Tridaya Eka Dharma yang artinya tiga unsur kekuatan satu pengabdian. Nama ini bisa dikaitkan dengan falsafah Minang “Tigo Tungku Sajarangan”. Museum ini didirikan sebagai sarana komunikasi antara generasi dan sebagai pewaris semangat juang dan nilai-nilai kepahlawanan.

Dipilihnya kota Bukittinggi sebagai tempat berdirinya museum ini dikarenakan kota Bukittinggi pernah menjadi ibu kota provinsi Sumatra dan ibu kota negara Republik Indonesia pada masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI).

BENTENG FORT DE KOCK

BENTENG FORT DE KOCK

Objek Wisata di Bukittinggi

Benteng Fort de Kock adalah benteng peninggalan Belanda yang berdiri di Kota Bukittinggi, Sumatra Barat, Indonesia. Benteng ini didirikan oleh Kapten Bouer pada tahun 1825 pada masa Hendrik Merkus de Kock sewaktu menjadi komandan Der Troepen dan Wakil Gubernur Jenderal Hindia Belanda, karena itulah benteng ini terkenal dengan nama Benteng Fort De Kock.

Benteng yang terletak di atas Bukit Jirek ini digunakan oleh Tentara Belanda sebagai kubu pertahanan dari gempuran rakyat Minangkabau terutama sejak meletusnya Perang Paderi pada tahun 1821-1837. Di sekitar benteng masih terdapat meriam-meriam kuno periode abad ke 19. Pada tahun-tahun selanjutnya, di sekitar benteng ini tumbuh sebuah kota yang juga bernama Fort de Kock, kini Bukittinggi.

Benteng Fort de Kock digunakan oleh Tentara Belanda sebagai kubu pertahanan dari gempuran rakyat Minangkabau terutama sejak meletusnya Perang Paderi pada tahun 1821-1837 .Semasa pemerintahan Be­lan­da, Bukittinggi dijadikan sebagai salah satu pusat peme­rintahan, kota ini disebut sebagai Gemetelyk Resort pada tahun 1828. Sejak tahun 1825 pemerintah Kolonial Belan­da telah mendirikan sebuah benteng di kota ini sebagai tempat pertahanan, yang hingga kini para wisatawan dapat melihat langsung benteng tersebut yaitu Fort de Kock. Selain itu, kota ini tak hanya dijadikan sebagai pusat peme­rintahan dan tempat pertahanan bagi pemerintah kolonial Belanda, namun juga dijadikan sebagai tempat peristirahatan para opsir Belanda yang berada di wilayah jajahannya.

NGARAI SIANOK

NGARAI SIANOK

Objek Wisata Bukittinggi

Ngarai Sianok adalah sebuah lembah curam (jurang) yang terletak di perbatasan kota Bukittinggi, di kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, Sumatra Barat. Lembah ini memanjang dan berkelok sebagai garis batas kota dari selatan ngarai Koto Gadang sampai ke nagari Sianok Anam Suku, dan berakhir di kecamatan Palupuh. Ngarai Sianok memiliki pemandangan yang sangat indah dan juga menjadi salah satu objek wisata andalan provinsi.

Lembah curam di perbatasan Bukittinggi dan Agam ini begitu mempesona. Kontur alam yang berbukit-bukit menjadikan bagian dari lanskap bumi yang satu ini begitu menarik untuk sekadar dinikmati dengan bersantai. Spot terbaik menikmati Ngarai Sianok adalah di Taman Panorama, di mana kamu bisa mengabadikan kemegahan lembah ini, sekaligus menikmati kuliner khas Padang.

AIR TERJUN LEMBAH ANAI

AIR TERJUN LEMBAH ANAI

Air Terjun Lembah Anai

Air Terjun Lembah Anai adalah sebuah air terjun yang terletak di Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat. Air terjun setinggi sekira 35 meter ini berada tepat di tepi Jalan Raya Padang-Bukittinggi di kaki Gunung Singgalang.

Air Terjun Lembah Anai merupakan bagian dari aliran Sungai Batang Lurah, anak Sungai Batang Anai yang berhulu di Gunung Singgalang di ketinggian 400 Mdpl. Air terjun ini terletak di batas barat kawasan Cagar Alam Lembah Anai sehingga suasana masih alami dengan hutan lebat serta pepohonan rimbun. Disekitar air terjun pun terdapat monyet yang yang berkeliaran. Pada saat liburan, air terjun ini dikunjungi oleh ratusan pengunjung. Keindahannya membuat Air Terjun Lembah Anai menjadi icon pariwisata Provinsi Sumatra Barat.

Airnya yang jernih mengalir menyusuri perbukitan menuju lereng, lalu mengalir terus melewati hutan Gunung Singgalang sebelum sampai di tepi tebing yang curam. Dari tebing ini, aliran air kemudian terjun ke dasar lembah Anai dan membentuk kolam tempat air berkumpul.

Air terjun yang berkabut air membentuk gugusan indah yang berwarna-warni ketika disinari oleh cahaya mentari. Debit airnya cukup deras dan stabil di musim penghujan namun akan sangat deras saat hujan lebat turun. Tak jarang air terjun ini akan mengalami banjir dan airnya meluap ke jalan raya.

KOTA TUA PADANG

KOTA TUA PADANG

Kota Tua Padang
Bagi kamu yang doyan dengan pemandangan vintage, Kota Tua Padang adalah salah satu spot menarik yang bisa kamu jelajahi. Tidak sedikit bangunan dengan gaya tempoe doeloe yang tersebar di sejumlah lokasi. Spot ini juga kerap dijadikan sebagai tempat foto prewedding untuk mendapatkan kesan classic. Kota Tua Padang kini juga menjadi salah satu wilayah cagar budaya yang terus dijaga kelestariannya.

Menurut sejumlah sumber, Padang dulunya merupakan wilayah paling maju di Sumatra. Bahkan bisa disetarakan dengan kota Metropolitan. Banyak kegiatan perdagangan antar negara berlangsung di tempat ini, terutama di sekitar akhir Abad ke-18 dan awal Abad ke-19. Pemerintah kolonial juga pernah menjadikan Padang sebagai pusat kekuatan militer mereka.

Salah satu daerah tersibuk adalah Pelabuhan Muaro, lokasi yang diyakini sebagai titik awal berkembangnya Kota Padang. Kini, sejumlah bangunan peninggalan Belanda masih bisa ditemui sepanjang Jl Muaro, Pasa Gadang, Pasa Mudik, hingga daerah Pondok.

Kota Tua bagaikan etalase yang menunjukkan keragaman budaya masyarakat Padang. Sebab di kawasan ini hidup masyarakat dari beragam etnik. Mulai dari India, Tionghoa, Melayu, Nias, Jawa, hingga Minangkabau, semuanya punya adat istiadat dan tradisi masing-masing.

Contohnya saja masyarakat keturunan India yang berdiam di daerah Kampung Keling. Setiap tahunnya mereka rutin mengadakan Serak Gulo, khusus untuk memberi penghormatan pada tokoh-tokoh muslim India berjasa besar. Padang menjadi wilayah ketiga di dunia yang mengadakan tradisi ini, selain India dan Singapura.

Masjid Raya Sumatera Barat

Masjid Raya Sumatera Barat

Masjid Raya Sumatera Barat
Masjid Raya Sumatra Barat salah satu landmark terbaru yang dimiliki Padang dan Sumatera, Masjid Raya Sumatera Barat ini memiliki bentuk yang mengadopsi rumah adat Minangkabau. Karena keunikannya ini, spot tersebut turut menjadi destinasi wisata religi bagi yang berkunjung ke ibukota Sumatera Barat ini.

Konstruksi masjid terdiri dari tiga lantai. Ruang utama yang dipergunakan sebagai ruang salat terletak di lantai atas, memiliki teras yang melandai ke jalan. Denah masjid berbentuk persegi yang melancip di empat penjurunya, mengingatkan bentuk bentangan kain ketika empat kabilah suku Quraisy di Mekkah berbagi kehormatan memindahkan batu Hajar Aswad. Bentuk sudut lancip sekaligus mewakili atap bergonjong pada rumah adat Minangkabau rumah gadang.

Masjid Raya Sumatra Barat menampilkan arsitektur modern yang tak identik dengan kubah. Atap bangunan menggambarkan bentuk bentangan kain yang digunakan untuk mengusung batu Hajar Aswad. Ketika empat kabilah suku Quraisy di Mekkah berselisih pendapat mengenai siapa yang berhak memindahkan batu Hajar Aswad ke tempat semula setelah renovasi Ka’bah, Nabi Muhammad memutuskan meletakkan batu Hajar Aswad di atas selembar kain sehingga dapat diusung bersama oleh perwakilan dari setiap kabilah dengan memegang masing-masing sudut kain.

MUSEUM ADITYAWARMAN

MUSEUM ADITYAWARMAN

MUSEUM ADITYAWARMAN

Museum Adityawarman adalah museum budaya provinsi Sumatra Barat yang terletak di Kota Padang Museum ini diresmikan pada 16 Maret 1977 mengambil nama besar salah seorang raja Malayapura pada abad ke-14, Adityawarman yang sezaman dengan Kerajaan Majapahit

Museum Adityawarman ini memiliki julukan Taman Mini ala Sumatra Barat
Konstruksi museum dikerjakan pada 1974. Bangunan museum berada di areal lebih kurang 2,6 hektare dengan luas bangunan sekitar 2.854,8 meter persegi. Peresmian museum ditandai oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Prof. Dr. Syarif Thayeb. Selanjutnya, museum ini diberi nama Museum Negeri Adityawarman Sumatra Barat berdasarkan Surat Keputusan Menteri No.093/0/1979 tanggal 28 Mei 1979.

Sebagai museum budaya, Museum Adityawarman menyimpan dan melestarikan benda-benda bersejarah, seperti cagar budaya Minangkabau dan sekitarnya beserta beberapa cagar budaya nasional. Salah satu di antaranya adalah bangunan yang berarsitektur Minang, bernama Rumah Bagonjong atau Baanjuang.

Museum Adityawarman tersebut berfungsi sebagai tempat menyimpan dan melestarikan benda bersejarah seperti cagar budaya. Museum Adityawarman ini terdapat seluk beluk kebudayaan khas Minang, mulai dari pakaian adat hingga alat-alat musik tradisional. Terletak di pusat Kota Padang